BeritaPers. Opini || Ada jenis kepedihan yang tidak berdarah, tetapi perlahan meremukkan dada sampai habis: ketika dirimu berdiri di hadapan orang yang kamu percaya, lalu menyaksikan bagaimana kesepakatan bersama dengan mudahnya dihancurkan, lalu diinjak-injak tanpa penyesalan.
Pandai bersolek di balik kata-kata manis dan gesture seolah tanpa salah. Namun di balik itu, egonya adalah tembok raksasa yang tak tersentuh. Aturan yang dulu susun bersama dengan janji, dengan persetujuan, dengan tatapan mata yang meyakinkan kini hanya dianggapnya sebagai coretan tanpa arti. Begitu terjadi pelanggaran, bukannya sebuah kata “maaf” yang keluar dari bibirnya, melainkan ceceran alasan, celah hukum buatan, dan pembenaran yang dipaksa masuk akal.
Bagi dirinya, tidak ada luka yang cukup dalam untuk disesali. Semua yang terjadi hanya biasa-biasa saja. Salah diringankan, janji yang dianggap angin lalu, dan pengkhianatan kecil terhadap kesepakatan diputarbalikkan seakan itu adalah kelalaian yang bisa dimaklumi. Begitu lihainya ia mencari celah, hingga aturan hanya menjadi jaring yang mengikat orang lain, tetapi melonggar begitu menyentuh tubuhnya.
Namun, bagian yang paling meracuni jiwa bukanlah saat menolak pengakuan ia salah. Bagian yang paling membunuh adalah ketika ia membalikkan cermin itu. Dengan dingin dan tanpa rasa bersalah, ia menunjuk mukaku.
Tiba-tiba, ketulusanku menjaga kesepakatan diubah menjadi tirani. Kepatuhanku pada janji bersama distempel sebagai egoisme. Ia memutarbalikkan fakta dengan begitu mulus, seolah akulah dalang dari rasa sakit ini, dan dialah korban yang teraniaya.
Di titik itulah aku sadar: egonya tidak pernah terkikis, bahkan tidak berkurang seujung kuku pun. Ego itu hanya bersembunyi sementara, menunggu momentum untuk bangkit kembali dan merasa paling benar.
Ia tidak membutuhkan kesepakatan. Ia tidak membutuhkan kebenaran. Yang ia butuhkan hanyalah kemenangan atas setiap perdebatan, dan pembenaran atas setiap kesalahannya.
Sungguh melelahkan mencintai atau bertahan di dekat seseorang yang menganggap dirinya tak pernah bernoda, sembari dengan santai melemparkan seluruh kotoran ke wajah orang yang paling tulus mengasihinya.










