BeritaPers. Makassar || Langit Kota Makassar tampak bergeming di bawah naungan awan kelabu pada Jumat siang (13/2/2026). Rintik hujan yang turun konsisten sejak pagi menyelimuti sudut-sudut kota, menciptakan suasana sejuk sekaligus melankolis yang mengiringi langkah para jemaah menuju rumah ibadah.
Di tengah riuh suara hujan yang menghantam atap dan jalanan aspal, Masjid Babus Salam berdiri kokoh sebagai oase ketenangan. Meski cuaca sedang tidak bersahabat, ghirah para jemaah untuk menunaikan kewajiban salat Jumat tak surut, memenuhi barisan saf dengan balutan pakaian yang rapi dan aroma wewangian yang menenangkan.
Hadir sebagai sosok sentral di mimbar mulia adalah Dr. Muh Anwar HM. Dengan langkah yang tenang dan berwibawa, akademisi sekaligus tokoh agama tersebut naik ke atas mimbar, membawa pesan penting yang telah dipersiapkan dengan matang untuk menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Mengusung tema khutbah yang puitis namun tajam, “Menjemput Sinyal Langit di Tengah Kebisingan Digital”, Dr. Muh Anwar memulai narasinya dengan membedah realitas sosial hari ini. Beliau menyoroti betapa manusia modern kini lebih sering terjebak dalam hiruk-pikuk notifikasi ponsel dibandingkan mendengarkan bisikan hati nurani.
Dalam pemaparannya yang elegan, beliau menjelaskan bahwa “Kebisingan Digital” bukan sekadar soal suara, melainkan banjir informasi yang seringkali mendistorsi fokus manusia terhadap Sang Pencipta. Dunia virtual, menurutnya, telah menjadi ruang yang sangat riuh sehingga seringkali menenggelamkan “sinyal” spiritual yang seharusnya menjadi kompas utama kehidupan.
Dr. Muh Anwar menekankan bahwa untuk menjemput sinyal langit, dibutuhkan keberanian untuk melakukan spiritual detox atau jeda sejenak dari ketergantungan layar. Beliau mengajak jemaah untuk kembali menghidupkan tradisi tafakur dan zikir sebagai jembatan penghubung yang paling murni antara hamba dan Khalik-Nya.
Penyampaian yang lugas namun kaya akan diksi-diksi filosofis membuat suasana di dalam Masjid Babus Salam terasa begitu khidmat. Jemaah tampak tertegun saat sang khatib membedah analogi bahwa hati manusia adalah antena, yang jika terlalu banyak tertutup debu duniawi, maka ia akan sulit menangkap frekuensi rahmat Allah.
Lebih lanjut, Dr. Muh Anwar mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung ibadah, bukan justru menjadi tuhan baru yang menyita waktu dan perhatian secara berlebihan. Beliau mendorong jemaah untuk menjadi pengguna teknologi yang bijak dan beradab di tengah arus disrupsi.
Suasana semakin syahdu ketika khutbah kedua ditutup dengan doa yang menyentuh hati. Di bawah rintik hujan yang kian menderu di luar masjid, doa-doa dilangitkan, memohon keteguhan iman dan kejernihan pikiran agar tetap mampu mendengar “panggilan langit” di tengah bisingnya ambisi-ambisi duniawi.
Setelah rangkaian khutbah selesai, Dr. Muh Anwar HM kemudian melangkah menuju mihrab untuk bertindak sebagai imam salat Jumat. Suara beliau yang tartil dan penuh penghayatan saat membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun indah, memberikan getaran kedamaian bagi setiap makmum yang berdiri di belakangnya.
Ibadah Jumat kali ini di Masjid Babus Salam bukan sekadar rutinitas mingguan biasa, melainkan sebuah pengingat keras namun lembut tentang posisi manusia di semesta ini. Dr. Muh Anwar berhasil menyatukan dimensi intelektualitas dan spiritualitas dalam satu mimbar yang mencerahkan.
Seusai salat, jemaah perlahan meninggalkan masjid saat hujan di Kota Daeng mulai mereda menjadi gerimis tipis. Mereka pulang membawa pesan penting: bahwa di balik setiap ketukan jari di layar gawai, ada ketukan takdir dan rahmat Tuhan yang jauh lebih layak untuk dinanti dan dijawab.






















Discussion about this post