Adapun sekaitan dengan kembaran buaya, sejauh ini keberadaan bayi kembar lazim disebut dengan dinru “Kalau kembar berlainan jenis kelamin disebut Dinru Ulaweng, Kalau kembaran sesama laki-laki disebut dinru bessi, kalau sesama perempuan disebut Dinru Salaka” terang Mahasiswa Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini.
Selain kembaran manusia, ada juga kembaran dalam wujud lain ada yang disebut dinru mallajang (pelaku berkhayal bahwa ada kembarannya di dimensi lain sehingga mereka membuatkan kelambu-kelambu kecil yang disebut boco-boco atau palakka), dinru uwae (kembaran air ketuban), dan dinru darah (kalau darahnya banyak yang keluar) ini dipercaya memiliki pertalian.
Adapun menurut Abdi Mahesa secara narasi tentang kembaran buaya atau buaya penunggu sungai merupakan paradigma sering dijumpai masyarakat nusantara yang hidup di sekitar sungai atau muara yang dekat dengan laut.
“Mereka mempersepsikan buaya sebagai kembaran atau penunggu suatu wilayah sehingga seringkali dikultuskan dengan ritus-ritus memberikan sesajen ke sungai atau mata air Mappano ri Salo (Bugis) atau Appanaung ri Ere (Makassar) yang ditujukan kepada Buaya yang dipercaya sebagai penunggu atau kembaran mereka” pangkasnya
Abdi Mahesa menutup dengan pandanganyan bahwa kepercayaan komunitas masyarakat tentang buaya tidak terlepas pada pandangan positivisme sekaitan dengan keseimbangan ekosistem dengan melahirkan mitos dan dogma kultural terhadap buaya sebagai penunggu sebuah tempat yang tak lain juga sebagai simbol pemeliharaan kehidupan agar manusia menjaga sumber mata air, tidak mengotori sungai dan membangun kewaspadaan dini agar orang-orang terdahulu terhindar.
Namun disisi pandangan kembaran buaya ini, edukasi dan pencerahan kepada masyakarat perlu untuk dibangun agar lebih tepat memposisikan buaya sebagai hewan yang memiliki dampak ekosistem dan tidak memiliki kaitan dengan genetic manusia.(*)










