BeritaPers.Gowa || Di saat para pejabat berdasi sibuk dengan retorika pembangunan di balik meja kayu jati yang empuk, seorang perempuan muda dari pelosok Sulawesi Selatan justru melakukan apa yang gagal dilakukan pemerintah selama puluhan tahun. R. Ayu Bachir, seorang konten kreator yang memiliki hati jauh lebih besar dari sekadar mengejar followers, kini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian birokrasi. Ia tidak menunggu ketukan palu anggaran yang tak kunjung tiba; ia bergerak dengan nurani.
Dusun Lappara’na, Desa Bolaromang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, menjadi saksi bisu bagaimana negara seolah-olah “absen” dalam memberikan hak dasar bagi rakyatnya. Jalanan yang rusak parah dan berlumpur selama puluhan tahun hanya menjadi pemandangan harian yang diabaikan. Namun, di tangan Ayu Bachir, penderitaan warga ini tidak lagi hanya menjadi keluhan di meja makan, melainkan menjadi sebuah gerakan revolusioner yang memalukan setiap pejabat yang merasa bertanggung jawab atas wilayah tersebut.
Ayu mengawali langkahnya dengan senjata paling mematikan di era digital: kejujuran. Melalui unggahan konten yang memperlihatkan kondisi jalan memprihatinkan, ia tidak hanya sedang mencari “like”, melainkan sedang menelanjangi kegagalan sistem pengaspalan yang dianggap tidak maksimal dan tebang pilih. Langkah berani ini adalah sebuah tamparan bagi mereka yang mengaku wakil rakyat namun menutup telinga terhadap jeritan warga di pelosok Tombolo Pao.
Tanpa bantuan sepeser pun dari dana taktis pemerintah atau anggaran hibah yang seringkali berliku, Ayu menyisihkan hasil jerih payahnya dari “ngonten” selama dua bulan untuk membeli material. Dimulai dari dua truk timbunan, ia membuktikan bahwa satu individu yang memiliki integritas jauh lebih berharga daripada satu institusi yang terjebak dalam pusaran janji palsu. Ini bukan sekadar perbaikan jalan; ini adalah aksi protes paling elegan yang pernah ada.

Keajaiban pun terjadi. Ketulusan Ayu Bachir memicu gelombang solidaritas yang tak terbendung. Para sopir truk, donatur dari Facebook, hingga pengguna TikTok bergerak bersama. Rakyat membantu rakyat, karena mereka tahu mengharapkan realisasi pemerintah daerah hanya akan berakhir dengan kekecewaan yang berulang. Dalam waktu singkat, sumbangan material mengalir deras, membuktikan bahwa kepercayaan publik lebih memilih berlabuh pada sosok Ayu daripada pada mereka yang memegang stempel kekuasaan.
“Saya tidak menyangka akan ada yang mendukung aksi saya ini,” ujar Ayu dalam videonya dengan nada rendah hati. Namun, di balik kerendahan hati itu, tersirat sebuah pesan kuat: jika seorang konten kreator mampu menggerakkan puluhan truk material dalam empat hari, lantas ke mana perginya anggaran miliaran rupiah yang selama ini dikelola oleh dinas terkait? Apakah butuh viral terlebih dahulu agar keadilan bisa singgah di Desa Bolaromang?
Selama empat hari berturut-turut, pemandangan di Jalan Bolaromang berubah drastis. Puluhan truk material kini menutup lubang-lubang yang selama puluhan tahun dibiarkan menganga oleh kelalaian pejabat. Ayu Bachir bukan hanya sekadar memperbaiki jalan, ia sedang membangun kembali martabat masyarakat Lappara’na yang selama ini seolah dianaktirikan dalam peta pembangunan Kabupaten Gowa.
Keberhasilan gerakan swadaya ini adalah “prestasi yang memalukan” bagi pemerintah setempat. Bagaimana mungkin seorang individu sanggup menyelesaikan persoalan menahun hanya dalam hitungan hari? Ini adalah bukti nyata bahwa jika ada kemauan, pasti ada jalan. Dan selama ini, nampaknya “kemauan” itulah yang hilang dari saku para pemegang kebijakan di daerah tersebut.
Ayu terus meng-update perkembangan jalan tersebut, mengajak masyarakat untuk tidak berhenti bermimpi tentang perubahan. “Terima kasih kepada semua yang telah menyumbang, mari kita buat perubahan bersama!” serunya. Kalimat ini adalah panggilan perang terhadap kemalasan birokrasi. Ayu telah menciptakan standar baru bagi siapa pun yang ingin menyebut dirinya “pelayan masyarakat”.
Bagi para pejabat di Kabupaten Gowa dan Sulawesi Selatan, aksi R. Ayu Bachir adalah cermin retak yang menunjukkan wajah buruk tata kelola infrastruktur kita. Jangan hanya duduk diam melihat jalanan mulai membaik berkat keringat seorang konten kreator. Malulah pada rakyat yang harus merogoh kocek sendiri untuk memperbaiki fasilitas umum yang seharusnya menjadi kewajiban mutlak negara.

R. Ayu Bachir telah menuliskan sejarah baru di Sulawesi Selatan. Ia membuktikan bahwa kekuatan digital yang dipadukan dengan empati nyata sanggup meruntuhkan tembok ketidakpedulian. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang tidak membutuhkan SK (Surat Keputusan) untuk melayani warga, cukup dengan kamera dan tekad baja yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Semoga langkah ekstrem Ayu Bachir ini menjadi “alarm” yang memekakkan telinga para pengambil kebijakan. Jika ke depan jalan ini kembali rusak atau pengaspalan masih tetap tidak maksimal, maka masyarakat tahu persis siapa yang harus dipercaya dan siapa yang harus dipensiunkan pada masa mendatang. Terima kasih, Ayu, karena telah mengingatkan kami bahwa perubahan tidak butuh izin dari birokrasi yang tertidur.






















Discussion about this post