BeritaPers. Makassar || Kota Makassar akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Langit kelabu seolah enggan beranjak, menumpahkan hujan deras yang nyaris merata di seluruh sudut kota, seringkali dibarengi dengan tiupan angin kencang yang membuat siapa pun harus ekstra waspada saat berada di luar rumah. Namun, cuaca ekstrem yang melanda Kota Daeng pada Jumat, 6 Februari 2026 ini, tidak menyurutkan langkah ratusan jamaah untuk memadati rumah Allah.
Langkah kaki para pemburu keberkahan itu tertuju pada Masjid Baitur Rahim yang terletak di Jalan Gagak, Makassar. Masjid yang berdiri megah ini menjadi oase di tengah dinginnya cuaca Makassar. Begitu memasuki area masjid, jamaah langsung disambut dengan suasana yang luas dan tata ruang yang sangat nyaman. Arsitektur yang menawan dipadukan dengan sirkulasi udara yang baik membuat suasana ibadah terasa begitu khusyuk, seolah memberikan perlindungan dari keriuhan badai di luar sana.
Tepat saat waktu jum’at masuk, naiklah ke atas mimbar seorang sosok yang sudah tidak asing lagi di dunia akademik dan dakwah Sulawesi Selatan, Dr. Muh Anwar, HM. Beliau bukan sekadar khatib biasa; kapasitasnya sebagai Dosen senior di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar serta Ketua Program Studi Manajemen STIMI YAPMI Makassar, memberikan bobot tersendiri pada setiap untaian kalimat yang beliau sampaikan.
Dr. Muh Anwar dikenal memiliki gaya orasi yang sangat tertata, cerdas, namun tetap mampu menyentuh relung hati jamaah yang paling dalam. Kombinasi antara kedalaman ilmu tarbiyah (pendidikan) dan ketajaman manajemen yang beliau kuasai, membuat khutbah yang disampaikan tidak hanya menjadi sekadar ceramah agama, melainkan sebuah kuliah spiritual yang sistematis dan sangat relevan dengan dinamika zaman.
Dalam khutbahnya yang bertajuk “Ramadhan 2026: Menjemput Sinyal Langit Di Tengah Kebisingan Digital“, beliau memulai dengan refleksi tajam mengenai kondisi manusia di tahun 2026. Beliau menyoroti bagaimana manusia modern saat ini lebih panik ketika kehilangan sinyal internet daripada kehilangan “sinyal” koneksi kepada Sang Pencipta.
Menurut Dr. Muh Anwar, kebisingan digital berupa notifikasi yang tak henti-henti, gempuran informasi di media sosial, dan ketergantungan pada gawai telah membuat jiwa manusia menjadi “berisik” dan sulit menemukan ketenangan. Ramadhan 1447 H yang sebentar lagi tiba, menurut beliau, harus dijadikan momentum untuk melakukan shutdown terhadap segala gangguan duniawi tersebut demi menjemput sinyal-sinyal ampunan dari langit.
Beliau menekankan bahwa puasa di era digital bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang manajemen perhatian. “Jangan sampai jempol kita lebih aktif menyebar hoaks dan ghibah digital daripada membalik lembaran Al-Qur’an,” tegas beliau di hadapan jamaah yang tampak terpaku menyimak pesan-pesan bernas tersebut.
Lebih lanjut, sosok akademisi kharismatik ini menjelaskan bahwa Ramadhan adalah ‘provider’ terbaik yang menawarkan ‘bandwidth‘ pahala tak terbatas. Namun, sinyal tersebut hanya bisa ditangkap oleh hati yang bersih, hati yang tidak terdistorsi oleh ego dan ambisi duniawi yang berlebihan di jagat maya.
Kaitan antara kondisi cuaca Makassar yang sedang ekstrem dengan kondisi spiritual pun tak luput dari ulasannya. Beliau menganalogikan bahwa jika hujan deras bisa mengakibatkan banjir secara fisik, maka banjir informasi yang tidak difilter dapat mengakibatkan “banjir dosa” dan kekeruhan batin yang luar biasa jika tidak segera dibentengi dengan ibadah puasa.
Dr. Muh Anwar mengajak jamaah untuk mempersiapkan manajemen diri yang matang menyambut bulan suci. Sebagai seorang pakar manajemen, beliau mengingatkan bahwa kesuksesan Ramadhan tidak datang secara kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan spiritual yang presisi sejak dini, termasuk sejak bulan Sya’ban ini.
Khutbah yang berlangsung penuh khidmat itu seolah memberikan energi baru bagi para jamaah. Penjelasan beliau yang logis, diperkuat dengan dalil-dalil yang kontekstual, menjadikan pesan dakwah tersebut mudah dicerna oleh berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga generasi muda yang hadir di Masjid Baitur Rahim.
Sesaat setelah shalat Jumat usai, suasana di Masjid Baitur Rahim masih terasa tenang meski di luar sana hujan kembali mengguyur bumi Makassar. Jamaah pulang dengan membawa bekal pemikiran baru: bahwa menyambut Ramadhan 2026 adalah tentang mematikan sejenak kebisingan dunia, untuk mendengarkan kembali bisikan takwa yang selama ini tertutup oleh riuhnya digitalisasi.






















Discussion about this post