Beritapers. Gowa – Lembah Lohe, 11 Mei 2025 — Pagi baru saja menyingsing ketika deretan pendaki mulai mengisi daftar registrasi di basecamp utama pendakian Lembah Lohe. Ransel penuh, mata penuh semangat, tapi masih penasaran bahwa di depan terbentang rute yang akan menguji batas fisik dan mental: Tanjakan Seribu Penyesalan.
Langkah pertama dimulai dari jalur hutan sekunder yang tampak jinak, namun makin jauh, makin terasa keganasan Lembah Lohe. Jalur makin menyempit, akar-akar pohon membentuk jebakan alami, dan hujanpun trun mengguyur kami. Tapi semuanya belum seberapa sampai akhirnya mereka tiba di kaki tanjakan legendaris itu.
Tanjakan Seribu Penyesalan namanya bukan lelucon. Kemiringan nyaris 70 derajat, dengan tanah liat licin dan batu-batu longgar yang bisa membuat siapa pun tergelincir. Di sinilah banyak pendaki mulai ragu, mulai bertanya dalam hati: “Kenapa aku ke sini?”
Setiap langkah naik adalah siksaan. Nafas tersengal, kaki gemetar, dan tangan harus mencengkeram akar pohon atau tali bantu agar tidak terjerembab. Beberapa berhenti di tengah tanjakan, termenung. Tapi yang terus maju, membawa satu hal: tekad.
Dan akhirnya, setelah perjuangan tanpa henti, kabut mulai menipis, dan sinar matahari menembus celah pepohonan tinggi. Di hadapan mereka, Lembah Lohe terbentang megah—hijau, liar, dan tak terjamah. Keindahan yang terasa seperti surga… setelah melewati neraka.
“Ini bukan sekadar pendakian. Ini perjalanan batin. Kau harus kehilangan banyak tenaga untuk menemukan ketenangan,” ujar Angkilang, salah satu pendaki.
Lembah Lohe bukan untuk semua orang. Tapi bagi yang berani melangkah melewati Seribu Penyesalan, ada keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa-jiwa petualang sejati.
Laporan : Angkilang










