BeritaPers. Makassar – Langit Kota Makassar selama beberapa hari terakhir tampak konsisten berselimut awan kelabu, sesekali menjatuhkan rintik hujan yang membasahi aspal di sepanjang Jalan Urip Sumiharjo. Namun, suasana muram di luar ruangan tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat puluhan mahasiswa STIMI YAPMI Makassar yang tetap antusias menembus cuaca dingin demi menunaikan kewajiban akademik mereka. Alih-alih menuju gedung kampus yang formal, langkah kaki 29 mahasiswa semester 3 ini justru mengarah ke suasana hangat Cafe Kopi Kogo pada pukul 14.00 WITA.
Pemandangan menarik terlihat di salah satu sudut kafe, di mana deretan kursi yang biasanya diisi oleh pengunjung santai, kini bertransformasi menjadi ruang diskusi intelektual yang hidup. Inisiasi luar biasa ini datang dari Bapak Irfan Afandi, S.M., M.M., seorang dosen yang dikenal memiliki visi kreatif dan pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan. Beliau meyakini bahwa proses transfer ilmu pengetahuan tidak boleh terbelenggu oleh sekat-sekat dinding beton kelas yang terkadang justru menciptakan kejenuhan bagi para mahasiswa.

Sosok Irfan Afandi di mata para mahasiswanya bukan sekadar pengajar, melainkan mentor yang mampu membaca kebutuhan psikologis anak didiknya. Dengan kepribadiannya yang hangat namun tetap berwibawa, beliau berhasil menciptakan atmosfer belajar yang cair namun tetap sarat akan substansi keilmuan. Kreativitasnya dalam menggeser lokasi kuliah ke tempat publik seperti Kopi Kogo membuktikan bahwa beliau adalah pendidik yang adaptif terhadap perkembangan zaman, selalu mencari cara-cara baru agar materi kuliah dapat terserap dengan lebih optimal oleh generasi milenial dan Gen Z.
Mata kuliah yang dibahas siang itu adalah Manajemen Bisnis Internasional, sebuah disiplin ilmu yang krusial dalam memahami dinamika pasar global yang kian tanpa batas. Di tengah aroma kopi yang menguar, Irfan Afandi membedah esensi dari mata kuliah ini, menekankan betapa pentingnya bagi mahasiswa untuk memahami strategi ekspansi, perbedaan budaya dalam bisnis, hingga regulasi perdagangan antarnegara. Mata kuliah ini bertujuan membekali mahasiswa agar memiliki pola pikir global (global mindset) sehingga mereka siap menghadapi persaingan bisnis internasional yang kompleks di masa depan.
Biasanya, perkuliahan formal dilakukan di dalam ruang kelas dengan pengaturan kursi yang kaku dan suasana yang cenderung tegang. Namun, melalui inisiasi cerdas sang dosen, rutinitas tersebut dipatahkan tanpa sedikit pun mengurangi esensi dari pertemuan tatap muka antara dosen dan mahasiswa. Meskipun berpindah tempat, standar akademis dan target capaian pembelajaran tetap menjadi prioritas utama, membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh interaksi dan kedalaman materi yang disampaikan.





















Discussion about this post