BeritaPers. Pendidikan || Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, tak terkecuali bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Menyadari pentingnya hal tersebut, tim peneliti dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar yang diketuai oleh Dr. Andi Halimah, M.Pd, kolaborasi dengan mahasiswa PGMI FTK UIN Alauddin Makassar melaksanakan penelitian mendalam mengenai strategi pembelajaran inklusi di SD Inpres Tamangapa, Kota Makassar.
Penelitian yang melibatkan kolaborasi dosen dan mahasiswa ini menyoroti bagaimana sekolah reguler menangani siswa dengan Intellectual Disability (disabilitas intelektual) di tengah keterbatasan fasilitas dan kompetensi.
Realitas di Lapangan
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan, SD Inpres Tamangapa memiliki kelas inklusi di mana siswa reguler belajar bersama siswa berkebutuhan khusus (ABK). Fokus penelitian tertuju pada strategi pembelajaran bagi siswa dengan Intellectual Disability, suatu kondisi yang ditandai dengan keterbatasan signifikan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif.
Di lapangan, tim peneliti menemukan fakta bahwa guru kelas, telah berupaya menerapkan pendekatan inklusif. Namun, tantangan besar masih menghadang. Salah satu siswa ABK berinisial “U” (11 tahun), yang duduk di kelas IV, teridentifikasi mengalami kesulitan memahami materi yang disampaikan secara klasikal.
“Siswa U membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan siswa lain untuk memahami instruksi. Kemampuan berpikirnya tampak lebih lambat, sering menunda respons saat menjawab, dan memerlukan pengulangan instruksi secara terus-menerus,” ungkap tim peneliti dalam laporannya.
Pentingnya Visualisasi dan Program Individual
Temuan menarik dari penelitian ini adalah bagaimana gaya belajar siswa Intellectual Disability sangat bergantung pada media konkret. Meskipun mengalami hambatan akademik, siswa “U” memiliki kemampuan visual yang cukup baik dan merespons positif jika diberikan contoh nyata atau permainan edukatif.
Sayangnya, praktik di lapangan menunjukkan bahwa diferensiasi pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat spontan dan belum terdokumentasi dalam Program Pembelajaran Individual (PPI/IEP) yang baku.
“Guru memang memberikan pendampingan individual, namun keterbatasan waktu dan jumlah siswa yang banyak di kelas reguler membuat pendampingan ini belum maksimal,” jelas hasil analisis data penelitian tersebut.
Rekomendasi untuk Pendidikan Inklusi yang Lebih Baik
Melalui penelitian ini, Tim UIN Alauddin Makassar merumuskan solusi konkret untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusi di sekolah dasar. Solusi utamanya adalah penerapan pembelajaran terdiferensiasi yang terstruktur.
“Penanganan anak dengan intellectual disability tidak bisa disamakan. Mereka memerlukan instruksi yang eksplisit, langkah pembelajaran sederhana, dan pengulangan sistematis,” tulis laporan tersebut mengutip teori pendidikan khusus.
Tim peneliti merekomendasikan tiga langkah strategis bagi sekolah penyelenggara inklusi:
Penyusunan PPI (IEP): Sekolah harus memfasilitasi pembuatan profil siswa dan target belajar jangka pendek maupun panjang secara formal.
Penggunaan Media Visual: Guru disarankan menggunakan media konkret (gambar/kartu) untuk membantu pemahaman konsep abstrak.
Kolaborasi Orang Tua: Dukungan orang tua di rumah sangat krusial untuk melatih kemandirian dan keterampilan sosial anak.
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi para guru dan pemangku kebijakan pendidikan di Makassar untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah bagi semua anak. Dengan strategi yang tepat, keterbatasan intelektual tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk berpartisipasi dan berkembang di lingkungan sekolah. Semoga lebih baik dalam mengelola kelas dan anak inklusi.






















Discussion about this post