BERITAPERS || Pernahkah kita belajar bukan karena ingin memahami sesuatu, melainkan karena takut ketinggalan dari orang lain? Takut dianggap tidak update, tidak produktif, atau tidak sepintar teman-teman kita di media sosial? Perasaan itu kini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) ketakutan akan tertinggal dari arus tren. Fenomena ini pelan tapi pasti menyusup ke ruang-ruang pendidikan kita, membuat belajar bukan lagi perjalanan memahami, melainkan ajang pembuktian diri.
Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2022 (apjii.or.id/survei2022) yang dirilis pada 1 november 2022 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial pada remaja usia 13–17 tahun mencapai 95%, sementara di kalangan mahasiswa bahkan menyentuh 98,19%. Angka ini menggambarkan betapa kuatnya daya tarik dunia digital terhadap generasi muda.
Namun di balik keaktifan itu, ada sisi lain yang perlu direnungkan: banyak di antara kita yang belajar bukan karena ingin tahu, melainkan karena tidak ingin terlihat tertinggal. Akibatnya, makna pendidikan yang sejatinya membentuk pemahaman dan karakter justru tergeser oleh keinginan untuk tampil dan diakui.
Fenomena FOMO ini nyata terasa di kehidupan kampus. Mahasiswa kini berbondong-bondong mengikuti berbagai seminar, kelas daring, hingga pelatihan, bukan karena haus ilmu, tapi karena ingin menambah deretan sertifikat di CV atau unggahan media sosial.
Foto di perpustakaan sambil memegang buku, laptop terbuka di kafe dengan caption “produktif”, menjadi simbol kesibukan yang sering kali lebih penting daripada substansi pembelajaran itu sendiri. Pendidikan perlahan berubah menjadi panggung visual, di mana penampilan dan pencitraan menggantikan proses berpikir mendalam.
Padahal, jika kita menengok sejarah pendidikan Islam klasik, belajar adalah proses yang penuh keikhlasan. Pada Islam klasik pembelajaran dalam bentuk kuttab adalah tempat anak-anak belajar membaca dan menulis bukan untuk dilihat, tetapi untuk memahami dan mendekatkan diri kepada Allah.










