Pada dasarnya tujuan pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) agar manusia memahami tempatnya di hadapan Sang Pencipta. Pendidikan tidak hanya melatih akal, tapi juga membentuk hati yang sadar dan rendah hati.
Rasulullah SAW sendiri menjadi contoh pendidik yang paripurna. Beliau tidak mengajar dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan dan keteladanan. Ketika berhadapan dengan anak muda, beliau berbicara dengan bahasa kasih sayang; ketika berdialog dengan para sahabat, beliau membuka ruang untuk berpikir dan bertanya. Metode Nabi menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif lahir dari pertemuan hati dan pikiran, bukan dari paksaan atau pencitraan.
Pada masa Abbasiyah, lahir sistem madrasah seperti Nizamiyah yang menekankan integritas dan kompetensi. George Makdisi (1981) dalam The Rise of Colleges menjelaskan bahwa madrasah Nizamiyah menjadi lembaga yang mempraktikkan meritokrasi keunggulan seseorang diukur dari kualitas ilmunya, bukan dari status sosialnya. Dari sejarah ini kita belajar bahwa inti pendidikan Islam adalah kejujuran intelektual, bukan popularitas.
Namun hari ini, makna itu mulai pudar. Banyak yang lebih sibuk menampilkan “aku yang tahu” daripada menjadi “aku yang mau belajar”. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh, bukan arena lomba eksistensi. Personal branding di media sosial tidak akan berarti jika pengetahuan yang kita miliki dangkal.
Ilmu tidak bisa diukur dari jumlah postingan, melainkan dari kemampuan kita memahami dan mengamalkan. Selain itu perlu kita sadari bahwa budaya yang lebih sibuk menampilkan popularitas dari pada produktivitas seperti yang kerap kali terjadi dikalangan generasi muda sekarang bukan hanya mempengaruhi cara belajar individu seseorang tetapi juga membentuk iklim akademik secara luas.
Terkadang lembaga pendidikan tanpa sadar ikut mendorong budaya “aku yang tahu” melalui kompetisi lembaga, tuntunan administrasi hingga standarisasi penilaian kerap kali lebih menghargai yang banyak aktivitasnya dibandingkan kedalaman pemahaman itu sendiri. Hal-hal seperti inilah yang membuat pelajar maupun mahasiswa itu berlomba-lomba untuk sibuk terlihat oleh orang lain daripada seberapa bermaknanya ilmu yang ia dapatkan.
Untuk menyalakan kembali semangat belajar yang autentik, kita perlu menata ulang cara pandang. Pertama, jadikan teknologi sebagai sarana memperluas pengetahuan, bukan sekadar etalase kehidupan. Kedua, ubah cara kita memaknai kegiatan belajar seminar, webinar, atau kelas online bukanlah panggung, melainkan jembatan menuju pemahaman. Ketiga, biasakan mindful learning: belajar dengan sadar, dengan perhatian penuh, tanpa tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jika langkah-langkah kecil ini kita terapkan, niscaya semangat pendidikan Islam yang sejati akan kembali bernyala semangat untuk mencari makna, bukan sekadar citra. Karena pada akhirnya, belajar yang paling bernilai bukanlah yang membuat kita terlihat pintar di mata orang lain, tetapi yang membuat kita lebih memahami diri, lebih dekat dengan kebenaran, dan lebih rendah hati di hadapan Tuhan.
Riny Angraeni Cahyani Putri D
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAI YAPIS Takalar









