BeritaPers. Opini || Pergantian tahun biasanya identik dengan dentuman kembang api yang memekakkan telinga di pusat kota atau kemacetan panjang menuju destinasi wisata populer. Namun, bagi mereka yang ingin mencari makna mendalam dari sebuah perayaan, Kampung Bolaromang menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan dan kehangatan komunal.
Bolaromang bukan sekadar titik geografis di dataran tinggi; ia adalah ruang di mana tradisi dan modernitas bertemu dalam cangkir kopi yang sama. Perayaan Tahun Baru di sini tidak diukur dari seberapa meriah pesta poranya, melainkan dari seberapa erat jalinan silaturahmi antarwarganya.
Tradisi yang Menyatukan
Salah satu pemandangan paling menyentuh di Bolaromang saat malam pergantian tahun adalah tradisi makan bersama atau mabbaca-baca. Di balik kepulan asap pembakaran ikan atau aroma masakan khas rumahan, ada dialog antar generasi yang terjadi secara natural.
Bukan Sekadar Pesta: Di sini, Tahun Baru adalah momentum syukur atas hasil panen dan kesehatan selama setahun terakhir.

Solidaritas Lokal: Pemuda kampung bahu-membahu menyiapkan panggung sederhana atau sekadar area api unggun, membuktikan bahwa semangat gotong royong belum luntur ditelan zaman.
Melawan Arus Komersialisasi
Di saat banyak tempat memanfaatkan momen Tahun Baru untuk menaikkan harga setinggi langit, Bolaromang tetap tampil bersahaja. Opini saya, daya tarik utama kampung ini justru terletak pada ketulusannya. Wisatawan yang datang tidak diperlakukan sebagai “konsumen”, melainkan sebagai tamu yang disambut hangat ke dalam lingkaran keluarga besar.
Menikmati detik-detik pergantian tahun di bawah langit Bolaromang yang bersih—jauh dari polusi cahaya kota—memberikan ruang bagi kita untuk refleksi diri. Suara jangkrik dan embun yang turun perlahan menjadi musik pengiring yang jauh lebih merdu daripada musik disko yang hingar bingar.
Sebuah Harapan ke Depan
Tentu, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keaslian Bolaromang agar tidak tergerus arus pariwisata massal yang seringkali merusak tatanan sosial. Kita berharap pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat terus konsisten menjadikan Bolaromang sebagai destinasi wisata berbasis komunitas (community-based tourism).
Kesimpulannya, Tahun Baru di Kampung Bolaromang adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu butuh kemewahan. Terkadang, ia hanya butuh api unggun yang hangat, segelas kopi, dan percakapan jujur dengan orang-orang di sekitar kita.
Penulis : Ismarianto






















Discussion about this post