BERITAPERS || MAKASSAR – Beberapa pekan terakhir, warga Kota Makassar dan sekitarnya kembali diuji dengan persoalan dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kelangkaan BBM dan gas LPG, pemadaman listrik bergilir, hingga mulai menipisnya ketersediaan air bersih menjadi rangkaian masalah yang dirasakan hampir di seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah situasi seperti ini, kemarahan, kepanikan, dan saling menyalahkan adalah hal yang manusiawi. Namun sebagai masyarakat yang beradab dan beriman, kita diajak untuk menyikapi keadaan dengan cara yang lebih bijak: dengan kesabaran, keikhlasan, memperbanyak doa, mengurangi kebencian, dan menambah kemaslahatan.
1. Kesabaran: Kunci Menghadapi Ujian
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” [QS. Az-Zumar: 10].
Krisis energi dan air ini sejatinya adalah ujian. Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah berlebihan, tetap tenang mencari solusi, dan tidak melampiaskan emosi kepada sesama.
2. Keikhlasan: Menerima dan Bertawakal
Ikhlas menerima kenyataan bahwa rezeki, termasuk BBM, listrik, dan air, adalah titipan Allah. Setelah kita berikhtiar, mencari informasi, mengantre dengan tertib, maka serahkan hasilnya kepada Allah. Keikhlasan akan melapangkan dada sehingga kita tidak mudah stres dan justru bisa berpikir jernih mencari jalan keluar.
3. Perbanyak Doa: Memohon Pertolongan Allah
Di saat ikhtiar manusia terasa terbatas, doa adalah senjata orang beriman. Perbanyak istighfar, shalat hajat, dan doa: “Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kita. Doa berjamaah, baik di masjid maupun di rumah, akan menguatkan batin kita bersama.
4. Kurangi Kebencian, Tambah Kepedulian
Yang paling berbahaya di tengah krisis bukanlah kelangkaan barang, tetapi langkanya empati. Jangan sampai antrean BBM dan air memicu pertengkaran. Jangan sampai padamnya listrik memadamkan pula cahaya persaudaraan di antara kita.
Mari kita ganti kebencian dengan kepedulian.
Ada tetangga yang tidak punya penampungan air? Berbagi.
Ada warga yang tidak dapat info SPBU buka? Saling mengabari.
Ada lansia yang kesulitan mengantre? Bantu.
Inilah yang disebut kemaslahatan — mendahulukan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi.
Penutup: Ujian Akan Berlalu
Sejarah mencatat, Makassar adalah kota yang tangguh. Kita pernah melewati berbagai ujian yang lebih berat. InsyaAllah ujian BBM, gas, listrik, dan air ini juga akan berlalu.
Mari jadikan krisis ini sebagai momentum untuk muhasabah, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam bermasyarakat.
Karena setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. “Fa inna ma’al usri yusra”.
Semoga Allah SWT segera mengangkat kesulitan ini dan menggantinya dengan keberkahan untuk Makassar yang kita cintai bersama. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Wallahu a’lam bishawab.










