BeritaPers. Opini || Hari keempat biasanya menjadi ajang seleksi alam bagi jamaah tarawih. Masjid-masjid yang tadinya meluap sampai ke jalan, mulai menunjukkan “kemajuan” shaf depan alias jamaahnya makin maju ke depan karena yang belakang pada rontok. Di sini kita melihat fenomena menarik: perburuan imam yang bacaannya paling cepat. Seolah-olah hubungan dengan Tuhan adalah beban yang harus segera diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Saya ingin bertanya: apakah kita sedang shalat atau sedang ikut lomba lari estafet? Ada distorsi dalam pemahaman tentang ibadah yang khusyuk. Banyak yang lebih memilih masjid dengan “durasi kilat” agar bisa segera pulang dan lanjut main game atau menonton serial. Ibadah yang seharusnya menjadi jeda dari hiruk-pikuk dunia, justru dipaksa masuk ke dalam ritme dunia yang serba instan.
Ini adalah kegagalan dalam menanamkan makna proses. Kita hidup di era hasil, di mana yang penting adalah “sudah tarawih”, bukan “bagaimana tarawihnya”. Mentalitas jalan pintas ini merembes ke segala aspek kehidupan. Kita ingin pintar tanpa belajar, ingin kaya tanpa kerja keras, dan ingin masuk surga lewat jalur ekspres yang tidak melelahkan lutut saat ruku’.
Padahal, secara filosofis, gerakan shalat yang lambat adalah bentuk meditasi untuk menenangkan saraf yang tegang. Tapi di tangan imam yang “kejar setoran”, gerakan itu jadi mirip senam aerobik yang justru bikin napas tersenggal-senggal. Kita kehilangan estetika dalam beragama. Semuanya jadi mekanis, robotik, dan kering dari kedalaman rasa.
Malam ini, cobalah cari masjid yang imamnya membaca ayat dengan pelan, meskipun mungkin itu berarti kamu kehilangan waktu tidur 15 menit lebih banyak. Rasakan kegelisahanmu. Jika kamu merasa terbebani dengan bacaan yang panjang, mungkin hatimu memang sedang sakit dan butuh perawatan lebih dari sekadar menahan lapar.






















Discussion about this post