BeritaPers. Opini || Masuk hari keenam, telinga kita mulai dibombardir oleh ceramah singkat atau kultum yang isinya itu-itu saja sejak zaman kita masih pakai celana merah hati. Ada pola yang membosankan: penceramah bicara soal sabar, syukur, dan neraka dengan nada yang dibuat-buat bijak. Masalahnya, narasi yang dibangun seringkali terlalu melangit dan tidak membumi, gagal menjawab kenapa harga beras tetap mahal saat Ramadhan.
Banyak mimbar agama yang hanya menjadi tempat pengulangan dogma tanpa keberanian melakukan kritik sosial. Kita diajak untuk menahan haus, tapi jarang diajak berpikir kenapa akses air bersih di daerah terpencil masih sulit. Pendidikan agama kita cenderung individualistik dan magis, seolah-olah semua masalah bangsa bisa selesai hanya dengan doa tanpa ada perubahan struktural dan kebijakan yang adil.
Retorika tanpa aksi adalah sampah intelektual. Kita butuh narasi yang mendidik orang untuk menjadi warga negara yang kritis, bukan sekadar domba yang patuh pada teks-teks lama tanpa konteks. Penceramah yang hanya bicara soal bidadari di tengah isu kemiskinan yang nyata adalah penceramah yang sedang melakukan pembiusan massal terhadap nalar publik.
Bahasa yang digunakan juga seringkali terlalu kaku dan penuh jargon Arab yang tidak semua orang paham maknanya secara mendalam. Akibatnya, pesan agama hanya lewat di telinga sebagai suara latar menjelang buka puasa, bukan sebagai nutrisi mental yang mengubah perilaku. Kita butuh bahasa yang lebih jujur, yang berani mengakui bahwa menjadi orang baik itu susah dan penuh godaan.
Berhentilah mendengarkan ceramah yang hanya membuatmu merasa sudah “paling benar”. Carilah narasi yang justru mengusik kenyamananmu, yang membuatmu bertanya-tanya: apa gunanya shalatku jika aku masih sering memotong antrean atau meremehkan orang lain yang tidak sejalan?






















Discussion about this post