BeritaPers. Opini || Ada satu mitos yang sering dipakai untuk membenarkan ketidaknyamanan orang lain: “Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi di sisi Tuhan.” Oke, itu di sisi Tuhan, tapi di depan rekan kerjamu, itu tetap saja bau naga yang bisa menyebabkan pingsan seketika. Menggunakan dalil untuk melegitimasi kurangnya kebersihan diri adalah bentuk kemalasan yang dibalut keshalihan.
Kita harus paham bahwa menjaga perasaan orang lain adalah bagian dari akhlak. Menghargai hidung orang lain itu bagian dari ibadah. Banyak dari kita yang mendadak malas sikat gigi atau merawat diri dengan alasan “lagi puasa, lemas”. Ini adalah narasi ekstrem yang salah: seolah-olah menjadi suci itu harus berbanding lurus dengan menjadi kotor dan tidak terawat.
Kebersihan adalah bagian dari peradaban. Jika komunitas beragama tidak bisa mengelola bau mulut dan bau badan saat berinteraksi, bagaimana mungkin mereka bisa mengelola masalah bangsa yang lebih besar? Masalah kecil seperti ini menunjukkan level kesadaran sosial kita. Kita terlalu sibuk dengan hubungan vertikal ke langit sampai lupa bahwa hubungan horizontal ke sesama manusia membutuhkan etika dasar.
Apakah kamu merasa lebih religius saat orang lain menderita karena bicaramu? Agama tidak pernah menyuruhmu menjadi beban penciuman bagi orang lain. Puasa bukan kartu bebas untuk menjadi jorok. Justru di bulan ini, disiplin diri terhadap kebersihan harusnya meningkat karena kita sedang mempraktikkan hidup yang lebih teratur.
Jadi, tolong, tetaplah sikat gigi dan gunakan pembersih mulut yang sewajarnya. Tuhan mencintai keindahan, dan teman-temanmu akan lebih mencintai kehadiranmu jika kamu tidak membawa aroma “napas naga” ke dalam ruang rapat.






















Discussion about this post