BeritaPers. Opini || Meskipun masih hari kesembilan, pembicaraan sudah mulai bergeser ke tiket pulang (kampung). Mudik adalah fenomena sosiologis paling gila di dunia. Kita rela mempertaruhkan nyawa, waktu, dan uang hanya untuk sebuah prosesi “pulang”. Ada semacam tekanan psikologis yang ekstrem: kamu dianggap gagal jika tidak pulang saat lebaran.
Mudik seringkali bukan tentang rindu orangtua, tapi tentang pembuktian eksistensi. Kita ingin menunjukkan bahwa kita “sudah jadi orang” di perantauan. Pendidikan kita tidak pernah benar-benar mengajarkan bahwa kesuksesan tidak harus dipamerkan. Akibatnya, jalan raya menjadi teater pameran mobil kredit dan perhiasan yang mungkin cicilannya belum lunas.
Ini adalah pemborosan energi dan sumber daya yang luar biasa. Bayangkan berapa triliun rupiah yang terbakar di jalanan hanya untuk mobilitas serentak dalam satu minggu. Namun, kita menyebutnya “berkah ekonomi”. Kita terjebak dalam romantisme yang buta, hingga seringkali mengabaikan keselamatan dan esensi silaturahmi yang bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu macet puluhan jam.
Kenapa kita begitu terobsesi dengan kampung halaman fisik, tapi jarang peduli pada “pulang” secara spiritual? Puasa seharusnya membawa kita pulang ke jati diri manusia yang jujur dan sederhana. Tapi mudik justru seringkali membawa kita pada kepalsuan-kepalsuan baru demi menjaga gengsi keluarga.
Tahun ini, cobalah tanya pada dirimu sendiri: apakah kamu pulang untuk menyambung kasih sayang, atau hanya untuk pamer pencapaian? Jika niatmu adalah yang kedua, mungkin lebih baik kamu diam di kos-kosan dan merenungi kenapa jiwamu begitu haus akan pengakuan orang lain.






















Discussion about this post