BeritaPers. Opini || Kita sampai di sepertiga pertama Ramadhan. Di hari kesepuluh ini, biasanya rasa “spesial” itu mulai luntur. Puasa sudah jadi rutinitas mekanis. Bangun sahur, lapar, kerja, buka, tarawih, tidur. Kita mulai bosan. Ini adalah fase paling berbahaya karena kita mulai melakukan ibadah dengan mode autopilot.
Kebanyakan dari kita hanyalah robot agama yang menjalankan program tahunan. Kita membaca Quran tanpa paham artinya, kita shalat tanpa tahu apa yang kita ucapkan, dan kita berpuasa hanya karena kalender menyuruh kita begitu. Di mana letak pendidikan intelektual dalam beragama jika semuanya dilakukan tanpa pemikiran kritis?
Rutinitas yang tanpa makna akan berujung pada kejenuhan (burnout). Inilah kenapa banyak orang yang di pertengahan Ramadhan mulai kembali ke kebiasaan buruknya secara sembunyi-sembunyi. Kita gagal membangun sistem nilai yang kuat karena kita hanya mengandalkan semangat musiman, bukan disiplin mental yang permanen.
Pendidikan yang benar seharusnya membuat kita bertanya: “Apa yang berubah dari diriku setelah sepuluh hari ini?” Jika jawabannya hanya “berat badan turun dua kilo”, berarti kamu gagal total. Ramadhan adalah laboratorium transformasi, bukan sekadar kamp diet tahunan. Kita harus berani membongkar kebosanan ini dengan mencari makna baru dalam setiap ritual yang kita jalani.
Jangan biarkan dirimu menjadi mesin yang hanya tahu cara menahan lapar. Hari kesepuluh adalah waktu untuk melakukan audit spiritual. Jika hatimu masih sama kerasnya seperti sebelum Ramadhan, mungkin kamu perlu berhenti sejenak dari rutinitas dan bertanya: “Apakah aku sedang menyembah Tuhan, atau sedang menyembah kebiasaan?”






















Discussion about this post