BeritaPers. Opini || Di hari ketiga belas, semangat kedermawanan biasanya mulai bertemu dengan kalkulasi ekonomi menjelang lebaran. Kita mulai menghitung berapa banyak sisa saldo di tabungan setelah dipotong kebutuhan baju baru dan tiket mudik. Di sinilah mentalitas sedekah kita seringkali menyingkap sisi gelap: kita cenderung memberikan “sisa” daripada “yang terbaik”. Kita membongkar lemari, mencari pakaian yang sudah robek atau kekecilan, lalu mengirimkannya ke panti asuhan dengan perasaan telah menjadi pahlawan kemanusiaan. Memberi barang sisa adalah cara sopan untuk membuang sampah tanpa rasa bersalah. Kita sering menganggap bahwa orang miskin harus bersyukur menerima apa saja, tanpa memikirkan martabat mereka sebagai manusia.
Secara edukatif, ini adalah kegagalan dalam memahami makna empati. Sedekah bukan tentang mengosongkan gudang rumah kita, tapi tentang mengosongkan keterikatan hati kita pada harta benda. Jika yang kamu berikan adalah sesuatu yang memang sudah ingin kamu buang, di mana letak pengorbanannya? Kita sering menjadikannya transaksi dagang dengan Tuhan yang sangat oportunis. Kita bersedekah segelas air dengan harapan mendapatkan balasan sungai di surga atau rezeki nomplok di dunia. Ini adalah bentuk kapitalisme spiritual. Kita tidak benar-benar peduli pada penderitaan orang yang kita beri, kita hanya peduli pada “poin” pahala yang bisa kita kumpulkan. Sedekah menjadi mekanis, kering, dan kehilangan dimensi kemanusiaannya. Pendidikan karakter melalui puasa seharusnya menghancurkan sifat kikir ini.
Namun, kenyataannya banyak dari kita yang justru menjadi lebih perhitungan di bulan Ramadhan. Kita sangat royal untuk belanja makanan berbuka sendiri, tapi mendadak jadi akuntan yang teliti saat melihat kotak amal masjid lewat. Ada ketidakseimbangan yang ekstrem antara apa yang kita habiskan untuk perut sendiri dan apa yang kita berikan untuk kebutuhan orang lain. Cobalah sesekali memberikan sesuatu yang sebenarnya masih sangat kamu sukai. Rasakan peperangan batin yang terjadi di dalam dadamu saat harus melepaskannya. Jika kamu merasa berat dan merasa rugi, itu tandanya imanmu masih sangat bergantung pada materi. Ramadhan bukan tempat untuk membersihkan gudang, tapi tempat untuk membersihkan sifat serakah yang selama ini bersembunyi di balik alasan “kebutuhan masa depan”.






















Discussion about this post