BeritaPers. Opini || Ada sebuah keberanian yang salah kaprah yang sering kita temui di jam tiga pagi: penggunaan Toa masjid dengan volume maksimal untuk membangunkan orang sahur. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai “syiar” atau jasa besar bagi umat. Namun, jika kita melihat dari kacamata etika publik, ini adalah bentuk agresi suara yang mengabaikan hak orang lain untuk beristirahat.
Apakah kita pernah berpikir tentang mereka yang sedang sakit, bayi yang baru saja terlelap, atau pekerja non-muslim yang tidak punya kewajiban untuk bangun di jam tersebut?
Seringkali, cara kita beragama kehilangan sisi estetika dan kesopanannya. Kita merasa bahwa karena ini adalah bulan suci, maka semua orang harus tunduk pada ritme kita. Apakah Tuhan senang jika nama-Nya diteriakkan dengan cara yang mengganggu ketenangan manusia? Keshalihan yang dipaksakan lewat kebisingan bukanlah dakwah, melainkan dominasi. Kita sedang mendidik masyarakat untuk menjadi egois atas nama agama.
Ada istilah “environmental ethics” yang jarang sekali disentuh dalam kurikulum kultum kita. Menjaga ketenangan lingkungan adalah bagian dari amanah. Menjadi religius tidak berarti mendapatkan lisensi untuk menjadi tetangga yang menyebalkan. Jika suara musik keras dianggap polusi suara, kenapa suara teriakan sahur yang tidak beraturan tidak kita lihat dengan kacamata yang sama? Hanya karena labelnya “religius”, bukan berarti ia bebas dari kritik etika.
Lucunya, mereka yang paling keras berteriak di mikrofon seringkali bukanlah mereka yang paling taat ibadahnya, melainkan anak-anak muda yang sekadar mencari keseruan di malam hari. Agama hanya menjadi tameng untuk perilaku ugal-ugalan. Kita butuh narasi yang lebih dewasa, yang memahami bahwa dalam keberagaman, ada batas-batas yang harus dihormati. Syiar yang paling efektif bukan terletak pada kerasnya volume suara, tapi pada kelembutan perilaku dan kepedulian pada sesama.
Cobalah bayangkan jika posisi dibalik, di mana kelompok lain melakukan hal yang sama di jam istirahatmu. Jika kamu merasa marah, maka kamu baru saja menyadari bahwa selama ini kamu sedang melakukan standarisasi ganda. Ramadhan harusnya menghaluskan perasaan, bukan membuat kita jadi bebal terhadap kenyamanan orang di sekitar kita. Beragama itu harus cerdas, bukan sekadar berisik.






















Discussion about this post