BeritaPers. Opini || Satu hal yang paling memuakkan setiap kali Ramadhan tiba adalah melihat tumpukan sampah makanan yang meningkat tajam di tempat pembuangan akhir. Ini adalah ironi yang luar biasa ekstrem: di bulan yang katanya untuk merasakan penderitaan orang lapar, kita justru menjadi penyumbang limbah makanan terbesar. Kita membeli segala jenis takjil seolah-olah besok dunia akan kiamat, hanya untuk mendapati bahwa perut kita hanya sanggup menampung sedikit, dan sisanya berakhir di tempat sampah.
Kita gagal total dalam mempraktikkan manajemen konsumsi yang berkelanjutan. Pendidikan agama kita terlalu fokus pada “apa yang boleh dimakan” secara syariat, tapi abai pada “berapa banyak yang boleh dibuang” secara moral. Kita merasa sudah cukup shalih karena makan makanan halal, tapi kita tidak sadar bahwa membuang makanan adalah bentuk kezaliman terhadap bumi dan sesama. Ada egoisme yang sangat besar dalam setiap bungkus makanan yang kita buang begitu saja.
Ini menunjukkan betapa kuatnya budaya konsumerisme mencengkeram kehidupan beragama kita. Ramadhan telah dibajak oleh industri pangan untuk membuat kita merasa bahwa berbuka haruslah mewah dan melimpah. Kita terjebak dalam jebakan dopamin belanja makanan. Coba hitung berapa banyak uang yang kamu buang lewat sisa makanan dalam seminggu terakhir. Uang itu sebenarnya bisa memberi makan satu keluarga miskin untuk beberapa hari, tapi kamu memilih untuk menjadikannya sampah.
Kita sering berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan, tapi kita memperlakukannya seperti pesta pora tanpa henti. Nafsu yang katanya dibelenggu di siang hari, seolah-olah dilepas dengan dendam yang membara saat matahari terbenam. Ini bukan lagi soal kebutuhan biologis, ini adalah soal kegagalan mental. Jika puasamu tidak membuatmu lebih bijak dalam mengelola piringmu, maka puasamu hanyalah sebuah pertunjukan kelaparan yang sia-sia.
Cobalah untuk membeli takjil secukupnya saja besok sore. Lawan keinginan mata yang ingin melahap semuanya. Jika kamu merasa menderita karena hanya makan sedikit jenis makanan saat berbuka, berarti nafsu serakahmu masih memegang kendali penuh atas dirimu. Belajarlah untuk menghargai setiap butir nasi sebagai amanah, bukan sebagai komoditas yang bisa dibuang sesuka hati hanya karena kamu merasa sudah membelinya dengan uangmu sendiri.






















Discussion about this post