BeritaPers. Opini || Di malam-malam terakhir ini, doa-doa kita mulai berubah menjadi daftar permintaan yang sangat pragmatis dan egois. Kita memohon kelancaran rezeki, kesehatan keluarga sendiri, dan jabatan yang lebih tinggi, seolah-olah Tuhan adalah asisten pribadi yang bertugas mewujudkan ambisi kita. Sangat jarang kita mendengar doa yang benar-benar memikirkan nasib kemanusiaan secara luas atau permintaan agar kita dijadikan manusia yang lebih berani melawan ketidakadilan. Doa kita telah menjadi cermin dari narsisme spiritual kita.
Do’a adalah komunikasi transendental yang seharusnya mengubah perspektif kita tentang dunia. Namun, kita menjadikannya alat untuk memperkuat keterikatan kita pada dunia. Apakah kamu pernah berdoa agar Tuhan menghancurkan kesombonganmu, atau kamu hanya berdoa agar Tuhan memberkatimu untuk menjadi lebih sombong dari orang lain lewat pencapaianmu? Kita sedang mendidik diri sendiri untuk menjadi peminta-minta yang rakus, bukan hamba yang bersyukur.
Edukasi agama kita seringkali hanya mengajarkan tata cara berdoa, tapi bukan etika berdoa. Kita merasa bahwa dengan menangis di depan Ka’bah atau di pojok masjid, kita sudah otomatis menjadi orang baik. Padahal, tangisan itu bisa jadi hanya bentuk rasa kasihan pada diri sendiri yang tidak kunjung mendapatkan apa yang diinginkan. Kita memanipulasi emosi spiritual untuk menekan Tuhan agar mengabulkan keinginan kita, bukan untuk menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya.
Bayangkan jika Tuhan memberikan semua yang kita minta dalam doa-doa egois kita. Dunia mungkin akan hancur karena semua orang hanya memikirkan kepentingannya masing-masing. Ramadhan seharusnya melatih kita untuk “kurang memikirkan diri sendiri” (less self-centered), tapi di malam-malam terakhir, kita justru semakin terobsesi pada keselamatan dan keuntungan pribadi. Ini adalah bukti bahwa puasa kita belum berhasil menembus dinding ego yang tebal.
Malam ini, cobalah berdoa tanpa meminta apa pun untuk dirimu sendiri. Berdoalah untuk mereka yang tertindas, untuk bumi yang semakin rusak, atau untuk musuh-musuhmu agar mereka mendapatkan kedamaian. Rasakan betapa sulitnya melakukan itu tanpa menyisipkan kepentingan pribadi. Jika kamu merasa berat melakukannya, berarti kamu belum benar-benar mencintai Tuhan; kamu hanya mencintai dirimu sendiri dan menggunakan Tuhan sebagai sarana untuk mencapai keinginanmu.






















Discussion about this post