Beritapers.com.Jawa Timur- Sudah lama kita akrab dengan anggapan bahwa menjadi akademisi tidak bisa menghasilkan kekayaan, dan sebaliknya, jika ingin menjadi pengusaha, seseorang tak mungkin mencapai derajat profesor. Akademisi pun kerap dianggap kaya teori, tetapi miskin eksekusi ketika mendapat amanah di birokrasi.
Namun, mitos-mitos itu berhasil dipatahkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Putra Bugis-Makassar ini dinilai mampu menggugurkan berbagai mitos sosial, intelektual, dan birokratik yang selama ini dianggap sebagai kebenaran umum.
Mitos pertama: pengusaha sulit menjadi akademisi. Dalam pandangan konvensional, pengusaha sering digambarkan sebagai sosok praktis, berorientasi laba, dan jauh dari tradisi keilmuan yang sabar, metodologis, serta reflektif.
Amran membantah stereotip tersebut. Ia menempuh pendidikan akademik secara lengkap di Universitas Hasanuddin, mulai dari sarjana, magister, hingga doktor di bidang pertanian. Ia juga tercatat sebagai dosen ilmu pertanian di kampus tersebut.
Amran bukan sekadar pengusaha yang kemudian meraih gelar akademik. Ia menunjukkan bahwa dunia usaha dan dunia ilmu tidak perlu dipertentangkan. Dalam dirinya, keduanya justru saling melengkapi.
Karena itu, kiprahnya di bidang pertanian tidak berhenti pada teori, tetapi menjangkau praktik: teknologi, pestisida, pengendalian hama, paten, merek, perizinan produk, hingga industrialisasi sektor pertanian. Secara akademik, ia juga memiliki sejumlah paten/HAKI, menulis puluhan buku dan jurnal ilmiah, serta memiliki indeks sitasi internasional.
Mitos kedua: akademisi sulit menjadi kaya. Dalam kultur kita, akademisi sering dipersepsikan sebagai sosok asketik—cerdas, sederhana, tetapi jauh dari kemakmuran. Seolah-olah ilmu dan kekayaan berada di dua jalur yang berlawanan.
Amran mematahkan anggapan ini dengan elegan. Ia menunjukkan bahwa ilmu, jika dipadukan dengan keberanian mengambil risiko, inovasi, dan etos kewirausahaan, dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Jejak bisnisnya membuktikan hal tersebut. Sebelum kembali ke pemerintahan, ia berkarier di PTPN XIV, lalu mendirikan Tiran Group yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, pertambangan, perdagangan, hingga solusi pertanian.
Mitos ketiga: birokrasi selalu lamban dan sulit berubah. Birokrasi sering dicitrakan sebagai sistem yang kaku, penuh prosedur, dan lambat dalam pengambilan keputusan.
Amran hadir dengan pendekatan berbeda. Ia membawa karakter pengusaha ke dalam birokrasi: cepat, tegas, berani mengambil keputusan, dan berorientasi pada hasil. Di saat yang sama, ia mengedepankan disiplin akademik berbasis data dan logika riset.
Pengalamannya selama bertahun-tahun di PTPN menjadi fondasi kuat. Ia bukan sosok yang datang dari luar, melainkan tumbuh dari lapangan—memahami produksi, distribusi, manajemen, hingga persoalan teknis pertanian.Sebagai Menteri Pertanian, Amran telah dipercaya memimpin dalam dua periode pemerintahan: 2014–2019 dan kembali sejak 25 Oktober 2023.
Dalam dirinya, tampak perpaduan tiga dunia: usaha, akademik, dan birokrasi. Sebagai pengusaha, ia memahami efisiensi dan risiko. Sebagai akademisi, ia memahami ilmu dan inovasi. Sebagai birokrat, ia memahami regulasi dan kepentingan publik. Kombinasi ini jarang dimiliki secara utuh oleh satu figur.
Perjalanannya juga diwarnai berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional, termasuk tanda kehormatan negara, penghargaan di bidang pertanian, serta pengakuan dari lembaga global. Ia bahkan pernah masuk dalam kandidat penghargaan internasional bergengsi di bidang pangan.
Berbagai capaian tersebut mencerminkan gaya kepemimpinannya yang lugas, langsung, dan tegas terhadap penyimpangan. Bagi sebagian orang, gaya ini mungkin terasa tidak biasa. Namun, di tengah birokrasi yang kerap lamban, ketegasan semacam ini justru menjadi energi perubahan.
Dengan demikian, Amran Sulaiman layak dilihat bukan sekadar sebagai Menteri Pertanian, melainkan sebagai simbol pemimpin multidimensi. Ia membuktikan bahwa pengusaha bisa menjadi akademisi, akademisi bisa mencapai kemandirian ekonomi tanpa kehilangan integritas, dan birokrat dapat bekerja cepat dengan keberanian serta orientasi yang jelas.
Pada akhirnya, seluruh capaian yang diraihnya menjadi jalan pengabdian bagi kepentingan yang lebih luas.
Atas dasar itu, Amran Sulaiman layak disebut sebagai menteri yang mematahkan mitos.
Jakarta, Mei 2026
Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat






















Discussion about this post