• Landing Page
  • Shop
  • Contact
  • Buy JNews
Rabu, September 23, 2026
  • Login
Beritapers
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
No Result
View All Result
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
No Result
View All Result
Beritapers
No Result
View All Result
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
Home Berita Terbaru Berita Opini

Refleksi Hardiknas: Darurat Karakter Pendidikan Kita

Penulis: Hafsah, S.Hum., M.Hum

Kemal Situru by Kemal Situru
6 Mei 2026
in Berita Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Refleksi Hardiknas: Darurat Karakter Pendidikan Kita
75
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

BERITAPERS || Opini – Setiap tanggal 2 Mei, kita dengan khidmat memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah momen yang seharusnya menjadi ruang refleksi sekaligus evaluasi.

Namun ironisnya, di tengah seremoni dan slogan yang terus digaungkan, realitas pendidikan justru memperlihatkan wajah yang kian buram dan memprihatinkan. Kita merayakan kemajuan, tetapi menyaksikan kemunduran; kita berbicara tentang prestasi, tetapi menyembunyikan krisis yang sejatinya sedang menggerogoti dunia pendidikan kita.

Paradoks Dunia Pendidikan Kita
Berita-berita yang tersebar di ruang publik menggambarkan betapa kritisnya kondisi dunia pendidikan kitRentetan kasus kekerasan pelajar terjadi di berbagai daerah: pelajar di Bantul tewas dikeroyok lalu dilindas (kumparan.com 26 April 2026), pelajar SMA di Bandung tewas karena dikeroyok juga oleh sesama pelajar (kompas.id 21 April 2026), hingga kasus penyiraman air keras terhadap pelajar di Bogor (news.detik.com 22 April 2026). Bahkan laporan menunjukkan kondisi darurat kekerasan di dunia pendidikan dengan ratusan kasus terjadi hanya dalam hitungan bulan (kompas.id 22 April 2026). Fenomena kekerasan ini bahkan menjangkau ruang pendidikan sejak usia dini. Kasus penganiayaan terhadap puluhan anak di sebuah daycare di Yogyakarta menunjukkan bahwa ruang pendidikan sangat memprihatinkan. (20.detik.com 26 April 2026).

Di satu sisi, ketika kita membanggakan kemajuan teknologi pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan akses informasi yang semakin terbuka. Namun relita yangg tidak bisa kita hindari adalah kemudahan itu justru melahirkan budaya instan; joki ujian, plagiarisme, dan manipulasi akademik menjadi fenomena yang seolah lumrah. Kasus joki UTBK yang dibayar hingga ratusan juta rupiah, penggunaan alat bantu ilegal, hingga pemalsuan dokumen menguatkan bahwa integritas akademik sedang berada di titik nadir (kompas.id/artikel 22 April 2026) Pendidikan yang mestinya membentuk integritas, justru terjebak dalam pragmatisme yang dangkal.

Paradoks ini adalah hasil dari kegagalan arah pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif, tetapi mengabaikan dimensi moral dan spiritual. Kita menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara karakter.

Mereka mampu bersaing, tetapi tidak selalu mampu membedakan yang benar dan yang salah. Lebih jauh lagi, sistem pendidikan yang cenderung sekuler dan berorientasi pada kapitalistik telah menggeser tujuan pendidikan itu sendiri. Kesuksesan diukur dari materi, bukan integritas; pencapaian dinilai dari hasil, bukan proses. Maka tidak mengherankan jika muncul generasi yang ingin berhasil secara instan, bahkan dengan cara yang tidak bermoral.

Namun, kita juga tidak bisa serta-merta menyalahkan generasi muda. Negara dan institusi pendidikan kerap menunjukkan sikap permisif terhadap berbagai pelanggaran, terutama ketika pelaku masih berada di bawah umur. Alih-alih memberikan efek jera, pendekatan yang terlalu lunak justru membuka ruang toleransi terhadap tindakan kriminal yang dibungkus sebagai kenakalan remaja.

Pendekatan hukum yang mengedepankan keadilan restoratif, misalnya, seringkali dipahami sebagai upaya pembinaan, tetapi dalam praktiknya dapat menimbulkan kesan longgarnya sanksi bagi pelaku pelanggaran tertentu (dandapala.com).

Hardiknas ini seharusnya tidak sekadar menjadi perayaan simbolik, tetapi menjadi alarm keras. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga harus memanusiakan. Kita tidak hanya membutuhkan siswa yang pintar, tetapi juga yang beradab. Maka, perlu ada keberanian untuk berbenah secara totalitas. Pendidikan harus kembali pada hakikatnya: membentuk manusia seutuhny yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Anda Mungkin Menyukai Berita ini

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

19 September 2026
Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

17 September 2026
Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

13 September 2026
Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

13 September 2026
Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

19 Agustus 2026

Nilai-nilai agama dan moral tidak boleh dipinggirkan atas nama kebebasan atau modernitas, karena justru di sanalah fondasi kepribadian dibangun.
Pendidikan dalam peradaban Islam
Pendidikan dalam perspektif Islam merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara.

Negara berkewajiban menyediakan sistem pendidikan yang tidak hanya memastikan akses dan kualitas, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik secara utuh. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak dipandang sekadar sebagai sarana transfer ilmu, melainkan sebagai instrumen pembentukan manusia yang beriman dan bertakwa.

Berbeda dengan kecenderungan pendidikan yang berorientasi pada capaian material semata, Islam menetapkan asas akidah sebagai landasan utama. Melalui asas ini, diharapkan lahir insan kamil, yaitu individu yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kesadaran spiritual.

Dengan demikian, keberhasilan tidak diukur semata dari hasil, tetapi juga dari kesesuaian proses dengan nilai-nilai kebenaran. Pendidikan Islam juga menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian yang mencerminkan keselarasan antara pola pikir dan pola sikap.

Pengetahuan yang dimiliki peserta didik harus tercermin dalam perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, pendidikan tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi mencakup pembinaan sikap dan tindakan secara berkesinambungan.

Dalam aspek penegakan hukum, Islam menetapkan sistem sanksi yang tegas dan proporsional bagi setiap pelanggaran, termasuk yang dilakukan oleh pelajar. Penerapan sanksi ini bertujuan untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga ketertiban sosial. Dengan demikian, hukum tidak hanya berfungsi sebagai alat penindakan, tetapi juga sebagai sarana edukatif dalam membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab.

Selain itu, negara dalam sistem Islam berkewajiban menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi tumbuhnya ketakwaan. Suasana kehidupan diarahkan untuk mendorong individu berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kompetisi materialistik semata. Lingkungan yang demikian akan memperkuat internalisasi nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan dalam Islam juga bersifat integral, melibatkan sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara. Ketiganya memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk kepribadian peserta didik. Seluruh proses tersebut harus berpijak pada akidah dan syariat Islam sebagai pedoman utama.

Dengan demikian, solusi atas berbagai permasalahan pendidikan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berbasis nilai. Pendidikan tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan kompetensi, tetapi juga harus menekankan pembentukan karakter dan kepribadian.

Dalam konteks ini, penerapan prinsip-prinsip pendidikan Islam dapat menjadi rujukan normatif dalam membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Post Views: 124
Tags: Berita OpiniHafsahRefleksi Hardiknas: Darurat Karakter Pendidikan Kita
Kemal Situru

Kemal Situru

Kemal Situru adalah tokoh yang terkait dengan dunia pendidikan dan jurnalistik, sering terlibat dalam acara pelatihan dan pengembangan keahlian jurnalistik untuk mahasiswa, menunjukkan peran aktifnya dalam meningkatkan literasi media dan kemampuan publikasi di kalangan umum dan akademisi. Dan juga figur yang mendorong kegiatan literasi serta publikasi di lingkungan kampus.

Related Posts

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang
Berita Opini

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

by Kilang
4 hari ago
0

BeritaPers || Jangan ukur sebuah pendakian hanya dari seberapa tinggi gunung yang ditaklukkan. Sebab, tidak semua perjalanan harus berakhir di ketinggian ribuan meter untuk memberikan pengalaman yang berarti....

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM
Berita Opini

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

by Kilang
6 hari ago
0

BeritaPers || Saya sering sekali mendengar dan membaca keluhan dari beberapa guru dan dosen terkait beban adminstrasi yang mereka harus jalani dalam pelaksanaan tugas mereka. Sebutlah tugas menyiapkan...

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

1 minggu ago
Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

1 minggu ago
Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

1 bulan ago
Load More

Related News

PNIB : 79 Tahun Polri, Lahir dan Digaji Oleh Rakyat, Saatnya Teladani Jendral Hoegeng

PNIB : 79 Tahun Polri, Lahir dan Digaji Oleh Rakyat, Saatnya Teladani Jendral Hoegeng

1 Juli 2025
Perkuat Peran Masjid, 500 Imam Dibina, Pemkot Makassar Targetkan Kualitas dan Keseragaman

Perkuat Peran Masjid, 500 Imam Dibina, Pemkot Makassar Targetkan Kualitas dan Keseragaman

17 Maret 2026
Wakapolres Takalar Beri Penyuluhan Hukum Terkait Perpol No. 2 Tahun 2021 di Polsel

Wakapolres Takalar Beri Penyuluhan Hukum Terkait Perpol No. 2 Tahun 2021 di Polsel

13 Februari 2025

Browse by Category

  • Artikel
  • Berita Budaya
  • Berita Cuaca
  • Berita Daerah
  • Berita Desa
  • Berita Dunia
  • Berita Ekonomi
  • Berita Foto
  • Berita Hankam
  • Berita Hiburan
  • Berita Hukum
  • Berita Kampus
  • Berita Kesehatan
  • Berita Kota
  • Berita Kriminal
  • Berita Nasional
  • Berita Olahraga
  • Berita Opini
  • Berita Pemerintahan
  • Berita Pendidikan
  • Berita Peristiwa
  • Berita Polisi
  • Berita Politik
  • Berita Ragam
  • Berita Religi
  • Berita Seremonial
  • Berita Sorot
  • Berita Sosbud
  • Berita Terbaru
  • Berita TNI
  • Berita Video
  • Breaking News
  • Business
  • Crypto
  • English News
  • Finance
  • Galeri
  • Health
  • International
  • Investing
  • Market
  • Movie
  • News
  • Newsbeat
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pedoman Siber
  • Politics
  • Protest
  • Space
  • Stories
  • Tajuk Utama
  • Technology
  • Trending Topik
  • Women
  • World
Beritapers

© 2025 - 2026 Beritapers.com - All Rights Reserved

Navigate Site

  • Blog
  • Checkout
  • Disclaimer
  • Elementor
  • Home
  • Home – العربية
  • Home 7
  • Indeks Berita
  • Keranjang
  • Kode Etik
  • Kode Etik Perilaku
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Sitemap_news
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Terms of Service

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Redaksi
  • Kode Etik Perilaku
  • Kode Etik
  • Indeks Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

© 2025 - 2026 Beritapers.com - All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?