BERITAPERS || BOLAROMANG– Di tengah gempuran modernisasi yang perlahan mengikis sekat-sekat kebersamaan di berbagai belahan dunia, sebuah pemandangan kontras yang sarat akan nilai leluhur tersaji di Kampung Bolaromang. Puluhan warga setempat berbondong-bondong memadati salah satu rumah kediaman warga guna melaksanakan tradisi *Assombung Bola*—sebuah ritual gotong royong menyambung atau memperluas bagian rumah dalam rangka menyambut pesta pernikahan salah seorang warga.
Bukan sekadar urusan bertukang, kegiatan ini menjadi panggung manifestasi nyata dari nilai kemanusiaan, kekeluargaan, dan solidaritas yang masih mengakar kuat dalam sanubari masyarakat Bolaromang.
Deru Kerja dalam Harmoni Kebersamaan
Sejak pagi buta, saat kabut tipis masih menyelimuti kampung, riuh rendah suara warga sudah mulai terdengar. Kaum pria, mulai dari remaja hingga tetua adat, berbagi peran tanpa perlu dikomando secara kaku. Menggunakan material utama berupa bambu pilihan, kayu, serta terpal kokoh berwarna biru dan merah sebagai atap sementara, mereka mulai merajang, mengikat, dan menegakkan tiang-tiang penyangga.
Pemandangan di lapangan memperlihatkan kerja sama yang luar biasa:
* **Tim Konstruksi Atas:** Beberapa pemuda dengan lincah memanjat rangka bambu tanpa rasa takut, memastikan setiap sambungan terikat kuat dengan tali nilon berwarna biru. Mereka bertugas memasang atap seng dan memastikan perlindungan dari potensi hujan atau terik matahari.
* **Tim Struktur Bawah:** Di bagian bawah, warga lainnya bahu-bahu menyusun balok bambu menjadi lantai panggung temporer, memperkuat fondasi dengan karung-karung pasir, serta memastikan keamanan struktur bangunan.
* **Tim Logistik Dapur:** Tidak kalah sibuk, kaum perempuan di area belakang rumah tampak bercengkrama hangat sambil menyiapkan hidangan makanan berat dan kopi hangat untuk mengalirkan energi bagi para pekerja.
Semua proses ini dikerjakan secara sukarela. Di Bolaromang, tenaga tidak dihargai dengan materi atau upah harian, melainkan dengan rasa persaudaraan dan keyakinan bahwa kelak ketika mereka membutuhkan bantuan serupa, seluruh kampung akan hadir mengulurkan tangan.
—
### Makna Filosofis *Assombung Bola*
Secara harfiah, *Assombung Bola* berarti “menyambung rumah”. Dalam konteks menjelang pernikahan, tradisi ini dilakukan karena rumah asli keluarga mempelai dinilai tidak akan cukup menampung sanak keluarga, tetangga, dan tamu undangan yang akan datang memberikan doa restu. Sambungan rumah temporer ini nantinya akan berfungsi sebagai ruang tamu tambahan sekaligus area utama pelaksanaan rangkaian prosesi adat pernikahan.
Namun, lebih dari sekadar perluasan fisik bangunan, tradisi ini memuat esensi filosofis yang mendalam:
> “Ini bukan hanya tentang mendirikan dinding bambu atau memasang atap terpal. Ini adalah simbol bahwa kegembiraan satu keluarga adalah kegembiraan seluruh kampung. Beban berat menyelenggarakan pesta pernikahan dipikul bersama agar terasa ringan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat di sela-sela aktivitas pembangunan.
Melalui *Assombung Bola*, masyarakat Kampung Bolaromang seolah ingin menegaskan kembali identitas mereka sebagai komunitas yang komunal, di mana ikatan darah maupun ikatan tetangga melebur menjadi satu kesatuan yang utuh.
—
### Menjaga Warisan di Era Modern
Pesta pernikahan di daerah ini memang selalu menjadi momentum sakral yang melibatkan partisipasi publik secara masif. Keberadaan tradisi *Assombung Bola* ini juga menjadi sarana transfer budaya yang efektif. Para remaja dan pemuda kampung dilibatkan langsung, membuat mereka belajar secara otodidak tentang teknik pertukangan tradisional sekaligus menyerap nilai-nilai moral tentang pentingnya hidup berdampingan secara harmonis.
Hingga matahari beranjak tinggi, senyum dan tawa tetap menghiasi wajah-wajah lelah warga yang bermandikan keringat. Keramahan yang tulus, banyolan-banyolan segar pengusir penat, serta deburan palu yang beradu dengan paku menjadi harmoni indah yang membuktikan bahwa di Kampung Bolaromang, semangat
gotong royong tidak akan pernah padam, melainkan terus tumbuh subur, menyambung generasi demi generasi.
Penulis : Ismarianto
Lokasi : Desa Bolaromang
Topik : Budaya






















Discussion about this post