BeritaPers. Opini || Lihat wisuda itu rasanya sesak. Sesak haru, bahagia, sesak nyesek. Buket uang Rp20 ribuan dijual Rp150 ribu. Buket Chocolatos harganya bisa buat makan sebulan. Tapi laris. Karena kita semua tahu: itu bukan buket. Itu tangisan Ibu yang 4 tahun menahan tidak beli baju baru. Itu keringat Bapak yang lembur demi UKT tidak telat.
Wisudawan naik panggung, senyumnya pecah, lipstiknya luntur kena air mata. Keluarga di bawah teriak “Selamat ya Nak” sambil HP-nya diangkat tinggi-tinggi. Ada yang bawa tikar + rantang, gelar di pinggir jalan. 6 jam menunggu demi 8 detik anaknya dipidahkan tali toganya oleh rektor.
Bahagia? Iya. Tapi bahagia yang amat mahal kawan.
Lalu Pak Rektor bicara. Kalimatnya saya garis bawahi: “Kalian sarjana unlimited”.
Unlimited. Bukan hanya cumlaude. Bukan hanya IPK 4.00. Tapi unlimited. Artinya: kalau dunia buntu, kalian harus jadi jalan keluar. Kalau semua orang bilang “tidak bisa”, kalian bilang “kasih saya waktu”. Tidak sibuk maggosip. No limited.

Saya merenung. Karena itu tamparan.
Tapi 2 menit kemudian Pak Hamdan Juhanis Rektor UIN Alauddin Makassar kasih tamparan kedua, saat mengajukan pertanyaan kepada 3 alumni terbaik dari program sarjana dan magister. “Apa yang paling penting dari sebuah kursi?” Ketiganya memiliki jawaban berbeda, ada yang memilih kaki, sandaran, dan bantalan”. Namun menurut Pak Rektor, yang paling penting dari kursi itu bukan sandaran empuknya. Bukan bantalnya. Tapi skrupnya”. Skrup tak terlihat, tapi justru menyatukan ketiganya.
Saya mencerna kawan.
Karena kita ini bangsa yang jago beli bantalan, tapi pelit beli skrup.
Buket cinta yang kita kasih itu bantalnya. Empuk, harum, instagramable. Tapi skrupnya? Mental “unlimited” itu?
Mana skrup yang mengajarkan anak: IPK 2.8 tidak apa-apa asal kamu bisa ngoding, bisa nulis, bisa jualan?
Mana skrup yang bilang: ditolak 50 kali itu wajar, yang tidak wajar itu kamu berhenti di lamaran ke-5?
Mana skrup yang mengajarkan: lulus bukan finish, lulus itu baru start lomba lari maraton?
Kita sibuk mendokumentasikan buket Rp500 ribu, tapi lupa memastikan kepala anak kita sekrupnya kencang apa kendor.
Hasilnya? 3 hari setelah wisuda, buket layu dibuang. Uang jajan habis. Foto diarsip. Tinggal pertanyaan tetangga yang tidak pernah pensiun: “Kamu, sudah kerja di mana?”
Dan disitulah air mata jilid 2 mulai. Anak kita yang 4 tahun dipuja “anak kuliahan” tiba-tiba merasa jadi beban. CV dikirim tidak dibaca. Skill tidak langsung dipake. Mental down. Padahal Pak Rektor sudah bilang: kalian unlimited.
Pak, Bu… kita tidak gagal jadi orang tua kalau tidak bisa belikan buket Rp1 juta. Kita gagal kalau anak kita lulus dengan gelar, tapi kosong skrupnya.
Dunia hari ini tidak butuh sandaran. Sandaran bikin manusia manja, rebahan, scroll TikTok sambil ngeluh “susah cari kerja”.
Dunia butuh skrup. Skrup itu diam, kecil, tersembunyi, tapi menopang semuanya. Skrup itu anak SMK yang benerin laptop dosen. Skrup itu lulusan sastra yang jago bikin copywriting. Skrup itu kamu, Nak, yang berani mulai dari gaji UMR atau di bawahnya, tapi kerja kayak CEO.
Jadi selamat wisuda, anak-anakku. Buket dari Ibu Bapak itu cinta yang tidak pernah putus, cuma jeda. Setelah ini, buktikan kalian skrup, bukan bantal.
Buktikan kalian sarjana unlimited. Melebihi ekspektasi. Langkahnya tidak ketebak.
Karena kalau bukan kalian yang jadi skrup, kursi Indonesia ini mau disangga siapa lagi?
Bismillah. No limited. Salam sukses.






















Discussion about this post