BERITAPERS || MAKASSAR — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Takalar di bawah nakhoda Bupati Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, M.M., bergerak cepat meletakkan fondasi pembangunan berbasis blue economy (ekonomi biru). Langkah strategis tersebut dikunci melalui pertemuan tingkat tinggi bersama Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., di Hotel Unhas, Makassar, Ahad (21/6/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk membahas cetak biru (blueprint) serta tindak lanjut akselerasi pengembangan sektor kelautan, perikanan, dan pariwisata pesisir di Kabupaten Takalar. Bupati Daeng Manye menilai, panjangnya garis pantai serta melimpahnya resources laut Takalar wajib diorkestrasi menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) agar pemanfaatannya bisa berjalan maksimal dan berkelanjutan.
“Takalar memiliki kekayaan sumber daya pesisir dan kelautan yang luar biasa mewah. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana mengelola potensi tersebut secara lebih produktif, berkelanjutan, dan melahirkan insentif ekonomi yang besar bagi warga. Karena itu, kami memandang Unhas sebagai mitra siber-strategis untuk menyuplai inovasi, draf riset, dan pendampingan akademik yang dibutuhkan daerah,” urai Bupati Daeng Manye taktis.
Strategi Integrasi: Optimalisasi PPI Beba hingga Eksotisme Tanakeke
Di hadapan Rektor Unhas yang juga pakar kelautan internasional tersebut, Bupati Takalar memaparkan sejumlah klaster wilayah strategis yang akan disulap menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru, antara lain:
Kawasan Pesisir Beba: Optimalisasi fungsi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) guna memperkuat rantai pasok (supply chain) distribusi hasil perikanan tangkap nasional.
Kepulauan Tanakeke: Pengembangan integratif berbasis budidaya, konservasi lingkungan mangrove, dan pariwisata bahari global yang ramah ekosistem asli.
Mangarabombang dan Sanrobone: Penataan kawasan pertumbuhan baru yang mengintegrasikan sektor budidaya tambak modern dan zona pariwisata sejarah-bahari.
Komoditas Rumput Laut: Hilirisasi industri pascapanen guna mendongkrak kualitas dan nilai tambah (added value) produk petambak lokal agar mampu menembus pasar ekspor.
“Kawasan Kepulauan Tanakeke, Beba, Mangarabombang, hingga Sanrobone memiliki karakteristik yang unik. Jika dikelola secara terintegrasi dalam satu ekosistem, kawasan-kawasan ini akan menjadi hulu ledak ekonomi baru bagi Takalar,” tambah Daeng Manye.
Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pesisir juga menjadi poin krusial. Pemkab Takalar membidik transfer teknologi dari Unhas untuk mempertebal kemampuan para nelayan, petambak, serta kelompok perempuan pesisir lewat program UMKM berbasis produk laut lokal. Di sektor pariwisata, destinasi andalan seperti Parialau, Pulau Sanrobengi, dan klaster kuliner pesisir khas Takalar akan dikemas secara lebih berkelas guna menarik minat wisatawan.
Rektor Unhas Sambut Hangat: Siapkan Dukungan Penuh
Gagasan visioner Bupati Takalar tersebut mendapat respons impresif dan sambutan hangat dari Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa. Pria yang akrab disapa Prof. JJ ini menegaskan bahwa seluruh poin yang diajukan Bupati Takalar merupakan core competence (keunggulan utama) dari kapasitas riset dan inovasi sains yang selama ini dikembangkan oleh civitas akademika Unhas.
Prof. JJ menyatakan kesiapan penuh Unhas untuk menerjunkan para pakar dan teknologi tepat guna ke Takalar demi mengawal kebijakan pembangunan yang berbasis data (evidence-based policy).
“Unhas siap bersinergi dan all out merancang program kolaboratif ini agar memberikan dampak instan yang nyata di lapangan. Kolaborasi ini adalah model ideal bagaimana dunia kampus dan pemerintah daerah bersatu mempercepat terwujudnya pembangunan kemaritiman yang inklusif, berdaya saing tinggi, namun tetap menjaga kelestarian alam,” tegas Prof. Jamaluddin Jompa optimistis.
Melalui kemitraan strategis ini, Kabupaten Takalar memiliki peluang emas untuk melesat maju sebagai barometer dan kiblat utama pusat pertumbuhan ekonomi kelautan berbasis pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan.





















Discussion about this post