Berita Pers – Whitney Houston, Michael Jackos alias Jacko, dua bintang yang dipuja, akhirnya tersungkur mati dalam keputusasaan yang nelangsa, bunuh diri obat psychedelik dengan overdosis. Randolph Hearst, Howard Hughes, hanya beberapa nama saja dari deretan kaum multi milyuner, tetapi jiwa mereka meratap, terpuruk dalam kemiskinan seraya dilanda kecemasan yang mencengkam. mereka terkena penyakit giroskop, kekayaan yang menyiksa batin. Dia hidup dalam gemerlapnya serba mewah, tetapi gelap gulita batinnya. Inilah satu bukti bahwa dunia materi tidak memberikan kebahagiaanpun kecuali perasaan yang terhimpit, didera oleh rasa jenuh yang penuh .
Akhirnya, Howard Hughes melakukan penyingkiran dari keramaian dunia, hidup teralienasi, walau bergelimangan harta , bertaburan tepuk dan pujian. Mereka kaum matrialistis ini adalah orang-orang yang hidup dia wang-awang, telah tercerabut dari kandangnya. Hidup serba kontradiktif. Nalurinya meronta ingin hidup bersama, tetapi gengsi dan reputasi menerkamnya untuk menjadi idividu yang porak poranda, dihinggapi goncangan kejiwaan bagaikan serigala yang kesepian the lonely wolf. Siang hari haus oleh pujian, malam hari gelisah didera penyakit insomania.
Ernest Renan, melukiskan betapa masyarakat modern didera oleh keinginan kebersamaan, tetapi penyakit individualistis telah begitu merasuk dihampir seluruh sistim kehidupan masyarakat moderen. Mereka kesepian ditengah keramaian, lonely in crowd.
Bercermin dari kehidupan mereka, maka kita sebagai seorang muslim tidak bisa melawan fitrah, karena kehadiran kita untuk membangun harmonitas, yang punya misi suci sebagai rahmatan lil alamin.
Kita boleh mengejar dunia, tetapi kita sadar ada akhirat. Kita boleh mereguk kehidupan, tetapi kita harus waspada dan bersiap diri untuk menempuh kematian. Maka dalam kesibukkan apapun dirinya, selalu melihat bayangan dirinya dalam tawajjuh, karena sadar bahwa orang tak bisa melihat bayangannya sendiri dalam air yang deras mengalir, tapi ia hanya dapat melihat pada air jernih yang diam .
Ditengah gemuruhnya palu godam tugas dan amanah dunia, kita tak pernah sedetikpun melewatkan audiensi dengan Yang Maha Agung, melalui shalat dan do’a. Ditengah panasnya api peradaban, kita tak pernah lupa mengguyur wajah dan mata batin dengan percikkan air wudhu .
Seorang muslim tak pernah merasa tersisihkan dari kehidupan dunia, karena dirinya adalah cahaya yang benderang. Kalau dunia Barat yang hedonis itu dilanda kesepian dalam keramaian, maka seorang muslim justru merasakan kedamaian batin, walau didera dalam kegelisahan dunia yang menantang. Jiwa seorang muslim itu penuh dengan kedamaian, mutmainnah, tetapi gerak hidupnya penuh dengan kegelisahan. (Anwar)






















Discussion about this post