BeritaPers || Setiap Rabiul Awal, umat Islam kembali mengingat sosok yang mengubah wajah sejarah manusia, Muhammad bin Abdullah SAW. Masjid dipenuhi shalawat, majelis digelar, makanan dibagikan, dan sirah Nabi dibacakan. Namun, ada pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apa sebenarnya yang kita rayakan ketika memperingati Maulid Nabi? Apakah sekadar kelahiran seorang manusia mulia, ataukah misi kemanusiaan yang dibawanya dan mengubah peradaban?
Pertanyaan ini penting agar Maulid tidak berhenti sebagai ritual tahunan yang meriah, tetapi benar-benar menghadirkan perubahan dalam kehidupan umat. Secara historis, perayaan Maulid dalam bentuk besar tidak ditemukan pada masa Nabi dan para sahabat. Tradisi ini berkembang beberapa abad kemudian dengan berbagai bentuk, seperti pembacaan sirah, shalawat, ceramah, sedekah, jamuan, dan tradisi lokal. Karena itu, Maulid juga menjadi cara umat Islam menjaga ingatan, kecintaan, dan keteladanan terhadap Rasulullah.
Masalahnya, kecintaan kepada Nabi terkadang berhenti pada simbol. Kita bershalawat, tetapi belum tentu meneladani kejujurannya. Kita membaca sirah, tetapi belum tentu memahami perjuangannya. Kita mengagungkan namanya, tetapi terkadang lupa pada nilai yang diperjuangkannya. Inilah paradoks yang harus kita renungkan.
Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat yang diliputi ketimpangan sosial, fanatisme kesukuan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Beliau tidak hanya menyampaikan ceramah moral, tetapi membangun manusia dan masyarakat. Beliau mengangkat martabat kaum lemah dan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan ditentukan oleh suku, kekayaan, jabatan, atau kekuasaan, melainkan ketakwaan dan akhlak. Dari perubahan manusia itulah lahir perubahan masyarakat dan peradaban.
Pesan tersebut tetap relevan di tengah kehidupan modern. Teknologi semakin maju, kecerdasan buatan berkembang pesat, dan media sosial menghubungkan manusia dalam hitungan detik. Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin beradab. Kita masih menemukan orang yang berbicara tentang agama tetapi mudah menghina, rajin mengutip hadis tetapi tidak jujur, serta gemar memperdebatkan perbedaan tetapi kehilangan kasih sayang.
Karena itu, Maulid seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar panggung. Ukurannya bukan seberapa meriah kita merayakannya, tetapi seberapa jauh akhlak Nabi hidup dalam diri kita. Jangan sampai kita sibuk menghias panggung tetapi lupa menghias akhlak, memperbanyak spanduk cinta Rasul tetapi juga memperbanyak ujaran kebencian, atau merayakan kelahiran Nabi tetapi tidak peduli kepada anak yatim dan kaum lemah.
Di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, Maulid telah berinteraksi dengan budaya lokal melalui berbagai tradisi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam dapat berdialog dengan kebudayaan selama nilai-nilai dasarnya tetap terjaga. Tradisi Maulid menjadi ruang untuk mempertemukan agama, sejarah, dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar momentum mengenang masa lalu, tetapi kesempatan untuk memperbaiki masa kini. Jika Nabi adalah teladan kejujuran, maka kita harus belajar jujur. Jika beliau mengajarkan kasih sayang, kita harus menghadirkan kepedulian. Jika beliau membela kaum lemah, kita harus berani memperjuangkan keadilan. Dan jika beliau adalah pembangun peradaban, maka kita harus menjadi umat yang mencintai ilmu.
Nabi Muhammad SAW tidak membutuhkan perayaan kita. Kitalah yang membutuhkan keteladanan beliau. Beliau tidak menjadi mulia karena Maulid kita, tetapi Maulid dibutuhkan agar ingatan tentang Nabi tidak berhenti menjadi cerita dan cinta tidak berhenti menjadi kata-kata.
Maka pertanyaan terbesar dalam Maulid bukanlah, “Sudahkah kita merayakan kelahiran Nabi?” Melainkan, “Sudahkah akhlak Nabi lahir dalam diri kita?” Sebab Nabi telah lahir lebih dari empat belas abad yang lalu, tetapi nilai-nilai kenabian harus terus lahir setiap hari melalui kejujuran, kasih sayang, keadilan, kepedulian, ilmu, dan akhlak kita.










