BeritaPers. Opini – Ramadhan, bulan yang dinanti, kembali menyapa kita. Sebuah kesempatan emas untuk membersihkan jiwa, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, di tengah gemuruh era digital, tantangan yang dihadapi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa semakin kompleks. Godaan dunia maya, dengan segala pesonanya, sering kali mengalihkan fokus kita dari esensi Ramadhan yang sebenarnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah hilangnya keheningan spiritual. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat komunikasi, justru menjadi sumber distraksi yang tak berkesudahan. Alih-alih merenungkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, banyak dari kita yang terjebak dalam pusaran konten viral yang tidak bermanfaat. Firman Allah dalam QS Al-A’raf (7:179) seolah menjadi peringatan bagi kita:
وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak diperluas untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”






















Discussion about this post