BeritaPers. Opini – Kita terjebak dalam labirin realitas yang kabur, sebuah era yang berani dilabeli sebagai “pasca kebenaran” oleh Kamus Oxford. Di sini, fakta-fakta tujuan terpinggirkan, tergerus oleh arus deras emosi dan keyakinan pribadi yang subyektif. Kenyataannya, yang seharusnya menjadi kompas kehidupan, kini terombang-ambing, menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Disinformasi, propaganda, dan manipulasi merajalela, terutama di dunia maya yang pembohong dan tak terkendali.
Pemilu yang baru saja berlalu meninggalkan luka yang menganga lebar di tengah masyarakat kita. Taktik “pasca kebenaran” dieksploitasi habis-habisan, opini publik dipelintir dan dimanipulasi demi kepentingan politik pada saat itu. Hoaks dan berita bohong berseliweran seperti virus, memecah belah persatuan, dan menciptakan tirai pemisah yang dalam dan berbahaya. Akibatnya? Polarisasi sosial yang mengerikan, hilangnya kepercayaan antar sesama, dan ancaman nyata bagi masa depan bangsa yang kita cintai.
Di tengah kekacauan ini, Ramadhan hadir sebagai oase di padang pasir yang tandus. Bulan suci ini menawarkan kesempatan emas untuk merehabilitasi diri, membersihkan jiwa dari noda-noda kegelapan dan kebencian yang telah mengakar. Namun, pertanyaannya, mampukah puasa menjadi “obat mujarab” bagi luka-luka yang ditimbulkan oleh era “pasca kebenaran”? Mampukah puasa menjadi katalisator bagi revolusi moral bangsa?
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar1dan haus.” Hadis ini menjadi mencerminkan keras bagi kita semua. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk dan perbuatan tercela yang merusak.






















Discussion about this post