BeritaPers. Gowa – Di jantung Kabupaten Gowa, Kecamatan Tombolo Pao, terbentang jalan poros Silanggayya-Bolaromang, sebuah ironi pembangunan yang menganga lebar. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian warga, kini menjelma menjadi kubangan lumpur dan batu, saksi bisu kelalaian pemerintah daerah.
Para petani, pahlawan pangan yang setiap hari berjibaku dengan alam, harus mempertaruhkan nyawa demi mengangkut hasil bumi mereka. Kendaraan roda dua dan empat, tersendat-sendat, terperosok, bahkan tak jarang terbalik di jalan yang lebih mirip jalur off-road ekstrem.
“Kami sudah lelah mengeluh,” ujar Daeng Sijaya, seorang petani setempat, dengan nada geram. “Sudah bertahun-tahun kami berteriak, tapi suara kami seperti hilang ditelan bumi. Pemerintah seolah buta dan tuli dengan penderitaan kami.”
Lihat Juga Video Dibawah ini!
“Setiap hari, kami melihat orang jatuh dan terluka,” timpal Ibu Ratna, seorang ibu rumah tangga yang sering melintas di jalan itu. “Anak-anak sekolah pun harus berjuang melewati jalan rusak ini, dengan risiko kecelakaan yang mengintai setiap saat.”
Jalan poros Silangayya-Bolaromang bukan sekadar jalan rusak. Ini adalah simbol ketidakadilan, bukti nyata bahwa pembangunan di Gowa masih timpang. Di saat daerah lain berbenah, warga Silangayya dan Bolaromang justru terperangkap dalam kubangan kemiskinan dan keterisoliran.
Wahai Pemerintah Kabupaten Gowa, di manakah nurani kalian?
Apakah kalian menunggu lebih banyak korban berjatuhan sebelum bertindak? Apakah kalian tega membiarkan warga kalian hidup dalam ketakutan dan penderitaan?
Kami, warga Silangayya dan Bolaromang, menuntut:
Perbaikan jalan poros Silanggayya-Bolaromang secara menyeluruh dan secepatnya.
Pembangunan infrastruktur yang layak, setara dengan daerah lain di Kabupaten Gowa.
Perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap nasib para petani dan warga yang terpinggirkan.
Cukup sudah janji-janji manis! Kami butuh bukti nyata! Kami butuh jalan yang layak! Kami butuh keadilan!
(AWR/ANG)





















Discussion about this post