BERITAPERS || SINJAI – Bagi Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Muhammadiyah Sinjai Timur, dakwah tidak melulu soal mimbar dan kata-kata. Dakwah bisa berwujud lumpur di kaki, keringat di dahi, dan ribuan bibit bakau yang ditancapkan ke bumi.
Filosofi “Islam Berkemajuan” yang mengedepankan aksi nyata bagi lingkungan inilah yang terekam jelas di Pantai Marannu, Desa Pasimarannu, pada Ahad (30/11/2025).
Namun, pagi itu, pesisir Pasimarannu tidak dibiarkan sendirian menghadapi ancaman alam. Ratusan pemuda yang tergabung dalam kolaborasi Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan (Himasdap) UMSi dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Sinjai Timur, turun ke lumpur. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa harapan dalam bentuk 5.000 bibit mangrove.
Pagi itu, PC Pemuda Muhammadiyah Sinjai Timur mengambil peran sentral dalam aksi kolaborasi penanaman 5.000 pohon mangrove. Langkah ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan sebuah respons mendesak atas jeritan alam. Data menunjukkan fakta yang menampar kesadaran: dalam lima tahun terakhir, Kecamatan Sinjai Timur telah kehilangan sekitar 4,5 hektar daratannya akibat abrasi.
Bagi Musrafil, Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Sinjai Timur, angka 4,5 hektar itu bukan sekadar statistik. Itu adalah tanah kelahiran yang hilang, ruang hidup masyarakat yang terancam.
“Pemuda tidak boleh sekadar menjadi penonton ketika tanahnya tergerus. Kita memikul tanggung jawab sejarah dan moral. Jika pesisir ini rusak, generasi kitalah yang paling berdosa karena membiarkannya,” ujar Masrafil di sela-sela kegiatan.
Semangat inilah yang mendorong Pemuda Muhammadiyah menggandeng Himasdap UMSi dan berbagai elemen lain mulai dari TNI, Pemerintah Desa, hingga mahasiswa untuk turun tangan. Kehadiran mereka menegaskan posisi pemuda sebagai problem solver, bukan sekadar trouble maker. Mereka hadir untuk memastikan ekosistem Pasimarannu memiliki “napas panjang” untuk generasi mendatang.





















Discussion about this post