BeritaPers. Opini – Doktor itu, ya ampun, bukan sekadar gelar dua huruf yang nangkring manis di depan nama. Ini tuh lebih ke maraton ekstrem mental dan fisik yang bikin kamu nanya, “Gue ngapain sih ini?” Setiap kali kamu ragu sama diri sendiri, terus aja nulis. Malam-malam tidur gelisah, bangun-bangun penuh keraguan, dan pasrah nyerahin ratusan halaman ke dosen pembimbing, cuma buat dapet komentar sakti: “Tolong diperjelas. Re-writer!” Rasanya pengen nyembur kopi panas ke monitor.
Doktor itu juga bukan bukti kalau kamu yang paling pintar di muka bumi. Seringnya malah sebaliknya. Ini bukti kalau kamu tuh keras kepala akut yang terus-terusan nanya pas orang lain udah puas cuma sama jawaban dari Google Scholar atau ChatGPT. Mereka udah rebahan sambil scroll TikTok, lah kita masih berkutat sama referensi tahun jebot yang bikin mata merem melek.
Pacaran sama ide? Nah, ini dia analogi paling pas buat doktor. Kamu percaya banget sama ide itu, padahal hasilnya belum kelihatan sekarang. Sabar tingkat dewa, padahal diserasi sering bikin hati ini berdarah-darah saking sakitnya. Kadang ide brilliant muncul jam 3 pagi pas lagi setengah sadar, eh pas udah siap nulis, cling, lenyap begitu saja! Kayak gebetan yang cuma kasih harapan palsu.
Dunia mikirnya doktor itu prestasi gila, padahal kadang cuma jalan panjang penuh stres dan tumpukan folder yang namanya bikin pengen nangis darah: “Final Fix”, “Final Beneran”, “Fix Revisi Final.doc”, dan sejuta nama alay lainnya. Dan setelah semua drama itu, kamu tetap aja nggak bisa nyusun satu kalimat paling penting dalam hidup: “Aku Sayang Kamu”. Mau ngomong gitu aja bisa muter sampai tiga paragraf, sambil background-nya lagu “If Tomorrow Never Comes” dengan volume pol. Ironis banget, kan?
Dan yang terakhir, doktor itu bukan berarti kamu paling ngerti dunia. Buktinya, meskipun udah punya gelar setinggi langit, kamu tetap aja gagal total memahami isi hatinya. Nggak peka sama amarahnya yang lagi meledak-ledak. Buta sama getar-getar cinta yang dia kirim lewat postingan artistik di pantai pake lagu “Beautiful in White”. Duh, kan nyesek! Jadi, kalau ada yang bilang doktor itu keren, mungkin mereka belum tahu rasanya terjebak di antara tumpukan jurnal dan deadline yang mencekik. The struggle is real!






















Discussion about this post