Beritapers.com.-Sulawesi Selatan terus menggaungkan perang terhadap Tuberkulosis (TBC). Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program Penanggulangan TBC (PPM) tingkat Provinsi, yang dipusatkan di Hotel Almadera Makassar. Pertemuan ini menjadi ajang strategis untuk mengukur progres dan merumuskan langkah taktis menuju eliminasi TBC di tahun 2030, Senin (21/7/2025).
Sebanyak 86 peserta dari berbagai lini kesehatan turut serta dalam pertemuan krusial ini, meliputi Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Kabid P2P Sulsel, Kabid P2P Kabupaten/Kota, Kabid Yankes Sulsel, Kabid Yankes Kabupaten/Kota, hingga Wasor Kabupaten/Kota.
Acara dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. dr. H. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., MM., MH. Dalam sambutannya, Dr. Ishaq menekankan salah satu tujuan utama kegiatan ini, yakni “bagaimana meningkatkan keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangan TBC di Sulawesi Selatan.”
Dr. Ishaq Iskandar menegaskan bahwa eliminasi TBC adalah program yang diutamakan oleh Bapak Presiden untuk pengentasan TBC di Indonesia. “Kita harapkan dengan implementasi strategi dan rencana aksi yang ada di dalam RAB masing-masing daerah, maka proses untuk eliminasi ini bisa ditingkatkan mulai dari fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, dan pihak terkait untuk diajak mengentaskan atau melakukan pengobatan yang sesuai dengan standar di fasilitas kesehatan” paparnya.
Untuk itu, diperlukan upaya yang produktif, masif, dan intensif sehingga dapat mencapai target penurunan kasus. Dinkes Sulsel menargetkan penemuan kasus sesuai target dan keberhasilan pengobatan mencapai 95 persen, serta peningkatan terapi pencegahan TBC (TPT) pada TBC laten. Pertemuan ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membahasakan dan memberikan masukan terhadap peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya TBC, guna mewujudkan target eliminasi TBC serta kolaborasi antar program dan lintas sektor.
Dr. Ishaq Iskandar tidak menampik bahwa saat ini Sulawesi Selatan masih menempati peringkat ke-7 secara nasional dalam jumlah kasus TBC, dengan Kota Makassar menyumbang angka tertinggi di provinsi ini. “Hal ini tentu menjadi perhatian serius sehingga diperlukan penguatan deteksi kasus aktif secara dini. Artinya, makin banyak yang ditemukan, makin besar peluang untuk memutus rantai penularan,” tegasnya.
Dinkes Sulsel pun mendorong semua kabupaten/kota untuk aktif melakukan investigasi kontak dan skrining secara masif. Salah satu langkah konkret yang telah diambil adalah penguatan Public-Private Mix (PPM), di mana fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) pemerintah dan swasta bekerja sama dalam penemuan dan pengobatan TBC. Selain itu, cakupan investigasi kontak diperluas dan dibarengi dengan pemberian TPT (Terapi Pencegahan TBC) pada kontak serumah.
Monitoring pengobatan juga diperkuat melalui jejaring petugas, pendamping, dan kader di tingkat masyarakat. Digitalisasi pelaporan mulai dioptimalkan untuk pelacakan real-time. Dari sisi regulasi, Dinkes Sulsel tengah berproses untuk pembuatan Rencana Aksi Daerah (RAD) sebagai salah satu komitmen bersama baik di Provinsi maupun di tingkat kab/kota untuk eliminasi TBC Tahun 2030.
Terkait penderita yang berhenti minum obat (putus obat), Dr. Ishaq mengakui ini menjadi tantangan besar. “TBC butuh pengobatan minimal 6 bulan dan disiplin tinggi. Jika penderita berhenti atau tidak tuntas dalam pengobatan, maka risiko terjadinya resistensi obat tuberculosis. Bila ini terjadi, maka pengobatan akan lebih kompleks dengan menggunakan obat lini 2,” jelasnya.
Oleh karena itu, perhatian dari keluarga dan pendamping selama pengobatan sangat penting. “Kami sedang memperkuat sistem pendampingan berbasis masyarakat, termasuk pelatihan kader. Dinas Kesehatan juga bekerja sama lintas sektor untuk memastikan penderita mendapat dukungan psikososial yang memadai,” tutup Dr. Ishaq, menunjukkan komitmen holistik dalam penanggulangan TBC di Sulawesi Selatan.
Laporan Rafi





















Discussion about this post