Oleh : Afifuddin Harisah
BERITAPERS – Dalam film Bidaah, agama tampil bukan sebagai cahaya yang menuntun, melainkan sebagai kabut yang membingungkan. Tokoh Walid berdiri di pusat pusaran itu—seorang figur religius yang tidak membimbing, tapi membius. Ia tidak mengajak mendekat kepada Tuhan, tapi menarik orang-orang ke dalam pusaran kuasa yang ia ciptakan sendiri, dengan simbol-simbol agama sebagai topengnya.
Ini bukan sekadar cerita fiksi. Walid bukan tokoh asing. Ia adalah cermin dari realitas kita hari ini: ketika agama tak lagi dijaga oleh kejujuran, tapi dimonopoli oleh mereka yang fasih berbicara namun cacat nurani.
Agama Tak Lagi Mencerahkan
Narasi besar yang diusung Walid adalah narasi tentang kebenaran tunggal. Ia tidak mengajarkan bagaimana berpikir, tapi bagaimana tunduk. Di tangan Walid, agama kehilangan fungsi kritisnya. Ia tidak lagi menjadi ruang dialog, melainkan sistem satu arah yang menuntut patuh tanpa tanya.
Lebih buruk lagi, ia tidak sekadar menciptakan doktrin, tapi menanamkan rasa bersalah yang mendalam pada siapa pun yang mencoba berpikir di luar garis. Ini bukan lagi dakwah, tapi penjinakan. Bukan lagi bimbingan, tapi pembekuan kesadaran. Murid-muridnya bukan dibebaskan, tapi dipasung oleh rasa takut akan “sesat”.
Kita melihat agama yang lumpuh: kehilangan kapasitas untuk membebaskan, dan justru menjadi alat penindasan spiritual.










