“Kami ingin memberikan pola pelatihan dan aktivitas yang bermanfaat agar mereka bisa terlibat dalam kegiatan yang produktif,” jelasnya.
Namun, Appi mengakui bahwa sebagian besar pelaku di lapangan masih berusia sangat muda, bahkan ada yang baru 14 hingga 15 tahun. Kondisi ini membuat pemerintah harus merancang pendekatan berbeda melalui pelatihan informal dan pendidikan nonformal.
“Kadang yang perlu diarahkan bekerja justru anak-anak yang masih 14–15 tahun. Karena itu kami siapkan pelatihan informal agar mereka bisa punya kesibukan yang produktif,” ujarnya.
Program pelatihan yang disiapkan mencakup keterampilan teknis dasar seperti perbengkelan motor, servis pendingin ruangan, hingga berbagai keahlian praktis lainnya yang dapat langsung digunakan untuk mencari penghasilan.
Selain itu, Pemkot Makassar juga menyiapkan sistem pendidikan informal yang memungkinkan mereka mengikuti penyetaraan ijazah.
“Kita ingin mereka punya skill yang bisa langsung diterapkan, sekaligus kami buat sistem pendidikan informal agar mereka bisa mendapatkan ijazah penyetaraan untuk dipakai melamar kerja,” tutup Appi.






















Discussion about this post