BERITAPERS || TAKALAR — Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Takalar berlanjut dengan penguatan kapasitas lembaga pendidikan keagamaan. Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, M.M., memimpin langsung Seminar Kemandirian Pesantren bertajuk “Sinergi Integrasi Eco-Pesantren” di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Kabupaten Takalar, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan ini merupakan salah satu dari lima agenda utama dalam Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar 2026 yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Takalar.
Seminar strategis ini membedah formulasi kemandirian pondok pesantren melalui kolaborasi lintas sektor, sekaligus menginternalisasi konsep Eco-Pesantren—yakni gagasan memadukan kurikulum keagamaan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan hidup.
Hadir memimpin diskusi bersama jajaran Pemkab Takalar dan para pimpinan pesantren, Bupati Daeng Manye menghadirkan narasumber ahli dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, yakni Mulyadi dan Tio Savier.
Melalui pendekatan Eco-Pesantren, lembaga pondok pesantren didorong untuk tidak hanya berfokus pada pembinaan karakter dan keilmuan agama, melainkan juga membangun budaya peduli lingkungan secara mandiri. Hal ini mencakup pengelolaan sampah terpadu, penataan lingkungan hijau, kebersihan sanitasi, serta pemanfaatan sumber daya alam lokal secara bijak dan produktif.
”Kemandirian pesantren dan kepedulian terhadap lingkungan adalah dua fondasi penting yang harus berjalan beriringan. Kita ingin pesantren di Takalar menjadi lembaga yang mandiri, adaptif, serta menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian alam,” ujar Daeng Manye di sela-sela kegiatan.
Sinergi antara Pemkab Takalar, pengelola pesantren, serta praktisi lingkungan seperti PPLH Puntondo diharapkan membuka peluang program wirausaha berbasis lingkungan (green economy) yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi keberlanjutan operasional pesantren di Kabupaten Takalar.










