Oleh: Aksan Al-Bimawi
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar
BERITAPERS – Ramadan bukan sekadar sebuah kewajiban religius yang harus dijalankan oleh umat Islam, tetapi juga merupakan pengalaman eksistensial yang mendalam. Dalam filsafat, kesadaran ontologis merujuk pada pemahaman mendalam tentang keberadaan dan eksistensi manusia dalam realitas yang lebih luas. Dalam konteks Ramadan, kesadaran ini menjadi semakin tajam melalui praktik puasa yang melibatkan bukan hanya dimensi fisik, tetapi juga spiritual dan kognitif.
Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa sebagai instrumen kesadaran yang lebih tinggi:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar aktivitas ritualistik, tetapi juga sebuah jalan menuju ketakwaan, yang dalam terminologi filsafat dapat diinterpretasikan sebagai perjalanan menuju kesadaran ontologis yang lebih tinggi.
Dimensi Ontologis Puasa: Menyelami Hakikat Keberadaan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali mengidentifikasi dirinya dengan atribut material: makanan, minuman, pekerjaan, dan kesenangan duniawi lainnya. Jean-Paul Sartre, dalam eksistensialisme ateistiknya, menyoroti bagaimana manusia sering kali terperangkap dalam “l’Être-pour-soi” (menjadi untuk dirinya sendiri), di mana individu mendefinisikan keberadaannya berdasarkan kepemilikan material. Ramadan, melalui praktik puasa, memberikan kesempatan bagi individu untuk melampaui kesadaran materialistik (mendekonstruksi identitas material) ini.
Dengan menahan diri dari kebutuhan dasar, manusia dipaksa untuk menghadapi pertanyaan mendalam: Siapakah aku tanpa makanan dan minuman? Apa yang tersisa dari diriku jika segala kenikmatan duniawi diambil sementara? Pertanyaan-pertanyaan ini membimbing seseorang menuju kesadaran ontologis yang lebih esensial.
Baca Juga:
Sejarah yang Terlupakan: Banalitas Dalam Narasi Sejarah Indonesia
Selain mendekonstruksi identitas material, puasa merefleksikan kita tentang kesadaran waktu dan keberadaan. Martin Heidegger dalam Sein und Zeit (Being and Time) menjelaskan bahwa manusia sering kali terjebak dalam keberadaan yang tidak autentik, di mana mereka hidup dalam rutinitas tanpa benar-benar menyadari keberadaannya. Ramadan mengubah cara kita memandang waktu: siang hari bukan lagi sekadar transisi antara pagi dan sore, tetapi menjadi ruang spiritual di mana seseorang belajar menahan diri dan merefleksikan keberadaannya.










