BERITAPERS || TAKALAR — Kabupaten Takalar tampaknya tidak pernah kehabisan stok destinasi eksotis yang mampu memanjakan mata dan menenangkan pikiran. Salah satu yang kini tengah naik daun dan menjadi buah bibir adalah Wisata Alam Paria Lau’. Destinasi pesisir ini terus memediasi magnet pemikat yang kuat bagi masyarakat lokal maupun pelancong luar daerah.
Tidak hanya masyhur dengan panorama matahari terbenam (sunset) yang dramatis, kawasan ini juga menawarkan lanskap eksotika malam yang romantis, menawan, dan memiliki daya kejut estetik tersendiri bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di sana.
Keindahan paripurna tersebut disaksikan dan dinikmati langsung oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye. Di tengah kesibukan roda birokrasi, orang nomor satu di Takalar ini menyempatkan diri melakukan kunjungan santai ke kawasan Wisata Alam Paria Lau’ pada Kamis (17/6/2026) malam.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, Bupati Daeng Manye yang tampil kasual tampak begitu menikmati embusan angin malam yang sejuk dan nyaman. Kehadiran bupati di tengah kegelapan malam yang benderang itu seketika mendapat respons riuh dan sambutan hangat dari ratusan warga serta komunitas keluarga yang sedang asyik menghabiskan waktu senggang mereka di lokasi tersebut.
Transformasi Estetika: Dari Jingga Senja Menuju Gemerlap Lampu Malam
Selama ini, Paria Lau’ memang mengunci reputasi emas sebagai salah satu spot terbaik untuk berburu momen magis tenggelamnya matahari di cakrawala Selat Makassar. Hamparan langit jingga yang merona saat senja tiba selalu menjadi latar belakang foto (instagramable) yang dinantikan oleh para pemburu estetika. Namun, keistimewaan Paria Lau’ dipastikan tidak langsung padam begitu saja saat matahari kembali ke peraduan.
Begitu malam membentang, wajah kawasan wisata ini bertransformasi menjadi lebih hidup, dinamis, dan semarak. Pengelola setempat berhasil menata tata cahaya dengan apik melalui gemerlap lampu hias beraneka warna yang menggantung estetis menghiasi berbagai sudut area jembatan dan pesisir pantai. Perpaduan harmonis antara pantulan cahaya lampu di atas air, udara malam yang segar bebas polusi, serta desiran ombak yang tenang menciptakan sensasi relaksasi psikologis yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
Maka tidak mengherankan jika dalam beberapa waktu terakhir, Paria Lau’ melejit menjadi salah satu ruang publik (public space) terfavorit di Kabupaten Takalar. Tempat ini menjelma menjadi titik kumpul yang sangat representatif dan ramah kantong bagi ekosistem keluarga, sahabat, maupun komunitas kepemudaan untuk merajut kebersamaan di bawah langit malam.
Komitmen Pemda Jadikan Paria Lau’ Ikon Pariwisata Makro
Kehadiran Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye yang membaur tanpa sekat di tengah kerumunan masyarakat menjadi sinyalemen kuat mengenai arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Takalar yang menaruh perhatian besar pada sektor pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism).
Dengan segala keunikan topografi dan daya dukung lingkungan yang melimpah, Pemkab Takalar berkomitmen untuk terus menyuntikkan modal fasilitas publik dan pendampingan pengelolaan agar Paria Lau’ naik kelas menjadi ikon wisata unggulan yang mampu mendatangkan devisa daerah serta menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat sekitar.
“Paria Lau’ ini memiliki paket komplit yang sangat istimewa. Siang menuju sore kita dimanjakan oleh lukisan alam sunset yang memukau, dan saat malam kita disuguhkan kehangatan suasana lampu yang artistik. Inilah destinasi lokal berkarakter yang layak kita rawat bersama, kita promosikan, dan menjadi kebanggaan mutlak seluruh masyarakat Takalar,” kesan yang terlontar dari sejumlah pengunjung yang malam itu berkesempatan berbincang santai dengan bupati.
Kini, narasi tentang Paria Lau’ telah bergeser ke arah yang lebih positif. Ia bukan lagi sekadar tempat persinggahan berburu sisa senja, melainkan telah mengukuhkan diri sebagai destinasi pilihan utama untuk mereguk kehangatan malam dengan harmoni alam yang menenangkan di Butta Panrannuanku.





















Discussion about this post