BERITAPERS || Barangpalie, Pinrang – Tradisi adat Mappalili kembali digelar oleh masyarakat Desa Barangpalie, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, pada Rabu (11/6/205). Kegiatan yang menjadi simbol dimulainya musim tanam padi ini berlangsung khidmat dan diikuti oleh sejumlah tokoh masyarakat serta instansi terkait.
Acara dimulai pukul 08.00 WITA dan dipusatkan di lahan pertanian milik kelompok tani setempat. Hadir dalam kegiatan ini Camat Lanrisang Bachrum Syah, S.Stp, M.Si, Danramil 1404-08/Lanrisang yang diwakili Serka Suaib, Kapolsubsektor Lanrisang Iptu Baharuddin, Pj. Kepala Desa Barangpalie Risnawati, serta PPL Desa Barangpalie Wahida.
Pihak pengairan diwakili oleh H. Tipu dan Ketua Gapoktan H. Hasan Pacarinnai turut hadir bersama tokoh agama dan para Ketua Kelompok Tani.
Dalam sambutannya, Camat Lanrisang menyampaikan apresiasi atas pelestarian budaya lokal yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat.
“Mappalili bukan hanya tradisi, tetapi juga momentum kebersamaan untuk memulai musim tanam dengan semangat gotong royong,” ujarnya.
Pj. Kepala Desa Barangpalie, Ibu Risnawati, juga mengungkapkan harapannya terhadap pelaksanaan Mappalili tahun ini.
“Kami bersyukur karena kegiatan Mappalili ini terus dijaga dan diikuti oleh generasi muda. Semoga musim tanam ini membawa hasil panen yang melimpah dan berkah,” ucapnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan teknis oleh penyuluh pertanian mengenai sistem tanam yang akan digunakan, serta informasi dari pihak pengairan terkait ketersediaan dan jadwal distribusi air irigasi.
Ketua Gapoktan, H. Hasan Pacarinnai, turut menyampaikan pandangannya.
“Dengan adanya Mappalili, para kelompok tani merasa lebih kompak. Ini bukan sekadar simbolik, tapi jadi semangat awal untuk bekerjasama selama musim tanam,” katanya.
Mappalili sendiri merupakan ritual adat masyarakat Bugis yang telah diwariskan secara turun-temurun. Istilah Mappalili berasal dari kata “palili” yang berarti membersihkan atau menyucikan. Dalam konteks ini, masyarakat menyucikan niat dan lingkungan mereka sebelum menanam padi, serta memanjatkan doa keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil panen melimpah.
Kegiatan berakhir pada pukul 10.00 WITA dalam keadaan aman, tertib, dan penuh khidmat.
Pelaksanaan Mappalili bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tetapi juga menunjukkan sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan kelompok tani dalam mendukung ketahanan pangan serta keharmonisan sosial di tingkat desa. (***)





















Discussion about this post