Mari kita mulai dengan hal sederhana. Mengapa tidak para suami dan anak laki-laki turut bangun dan ikut mempersiapkan sahur? Mengapa tidak berbagi tugas, siapa yang masak, siapa yang mencuci, siapa yang membereskan meja? Bukankah Ramadhan juga tentang gotong royong dan kebersamaan? Jika kita ingin meneladani Rasulullah, bukankah beliau pun membantu pekerjaan rumah tangga? Lalu, mengapa kita enggan mengikuti langkah kecil itu?
Perempuan di dapur Ramadhan tidak hanya memasak. Mereka sedang mengukir peradaban. Dari tangan mereka, lahir generasi yang kuat, sabar, dan penuh kasih. Tapi, sudah waktunya kita sadari, mereka tidak harus berjuang sendiri. Ramadhan ini, mari bebaskan perempuan dari beban yang sepihak. Biarkan mereka juga merasakan hakikat Ramadhan yang sesungguhnya—tenang, damai, dan penuh cinta.
Ramadhan bukan hanya tentang siapa yang paling banyak beribadah secara ritual, tetapi siapa yang paling mampu menghadirkan keadilan dan kasih sayang dalam lingkaran terkecil: keluarga. Dan itu dimulai dari sahur, dari berbuka, dari meja makan yang adil, di mana perempuan tak lagi dipandang hanya sebagai penyaji, tetapi sebagai manusia yang layak menikmati Ramadhan secara utuh.
Mari kita mulai revolusi kecil ini sekarang, sebelum Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna. Karena perempuan bukan pelayan di bulan suci ini. Mereka adalah penentu arah kemuliaan sebuah keluarga. Dan itu, layak dirayakan setiap sahur dan berbuka, dengan peran yang setara.










