Oleh: Syamzan Syukur
BERITAPERS – Ramadhan selalu datang dengan janji keberkahan. Bulan yang agung ini mengajarkan kita tentang menahan diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Ilahi. Namun, di balik keheningan sahur dan kemeriahan berbuka, ada sosok yang kerap luput dari perhatian: perempuan. Ibu, istri, kakak perempuan, atau bahkan adik perempuan, mereka yang sering kali menjadi tangan pertama dan terakhir dalam setiap piring yang kita nikmati di bulan suci ini.
Saat sebagian dari kita masih terlelap menjelang subuh, banyak perempuan sudah berjibaku di dapur. Mereka menyiapkan sahur agar keluarga tetap kuat menjalani puasa seharian. Sementara orang lain menikmati hidangan berbuka yang penuh rasa, perempuan justru sering kali menjadi yang terakhir duduk di meja makan. Mereka memastikan semua orang kenyang dulu sebelum suapan pertama masuk ke mulutnya sendiri. Ini bukan kisah baru, ini kenyataan yang terus berulang, bahkan di abad modern yang kita banggakan.
Ironisnya, di tengah semangat Ramadhan yang katanya penuh cinta kasih, justru ada ketimpangan peran yang tak disadari. Perempuan di bulan Ramadhan bukan sekadar ibu rumah tangga yang menyiapkan menu sahur dan berbuka. Mereka adalah penjaga semangat, pelindung kenyamanan, bahkan motivator yang diam-diam menjaga rumah tetap harmonis di saat fisik dan mental diuji oleh lapar dan dahaga.
Apakah adil beban ini mereka pikul sendirian? Apakah Ramadhan hanya mengajarkan laki-laki tentang menahan lapar, sementara perempuan menahan lelah? Inilah saatnya kita merenung, bahwa ibadah di bulan suci ini bukan hanya soal hubungan vertikal kepada Tuhan, tapi juga hubungan horizontal kepada sesama, terutama kepada perempuan yang ada di sekitar kita.
Ramadhan adalah momen revolusi spiritual, tapi juga seharusnya menjadi revolusi sosial. Seharusnya, meja makan berbuka adalah simbol kebersamaan, bukan simbol siapa yang melayani dan siapa yang dilayani. Sahur seharusnya menjadi waktu di mana seluruh keluarga bahu membahu, bukan satu pihak yang mengorbankan jam tidurnya demi yang lain.
Mengapa perempuan selalu dianggap sudah seharusnya melakukan itu semua? Jawabannya ada dalam kebiasaan, dalam budaya, dan dalam sistem patriarki yang begitu kokoh berdiri bahkan di bulan penuh rahmat ini. Padahal, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mengubah kebiasaan lama yang tidak adil. Kita semua diseru untuk lebih baik, lebih adil, dan lebih empatik.










