Data DLH menunjukkan timbulan sampah Kota Makassar mencapai 905 ton per hari pada tahun 2024. Komposisi sampah didominasi oleh bahan organik (54,46%) dan plastik (15,30%).
Yang paling mencemaskan, Dr. Helmy mengungkapkan fakta bahwa dari total sampah per tahun, hanya 2,01% yang dikelola, sementara sisanya 97,99% masih dibuang dan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menanggapi data tersebut, Dr. Helmy Budiman menegaskan bahwa DLH melihat sampah dari perspektif ganda. “Menurut kami di DLH itu di Pemerintah Kota Makassar, sampah itu punya nilai permasalahan di sisi tidak hanya di lingkungan tetapi di sisi kesehatan,” jelasnya.
Namun, ia menambahkan bahwa di balik masalah tersebut terdapat peluang besar. “Kalau kita bisa menangani sampah, di situ juga ada peluang. Jadi ini adalah sesuatu yang menguntungkan,” ujarnya, menekankan perlunya edukasi dan sosialisasi terus-menerus mengenai potensi ekonomi sampah.
Dr. Helmy berharap agar pengelolaan sampah dapat bertransformasi menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan. “Pemerintah berharap ini bisa menjadi industri besar di masa depan,” katanya, memimpikan pengelolaan sampah yang profesional dan masif.
Reformasi pengelolaan sampah kini menjadi tantangan besar dari hulu ke hilir, yang memerlukan keterlibatan aktif masyarakat, stakeholder, lembaga, dan penyesuaian regulasi.





















Discussion about this post