BERITAPERS|| Rappang – Kampus sebagai pusat pendidikan tinggi tidak hanya berperan dalam mencetak insan cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Hal ini kembali ditekankan oleh Dr. Sapri Tajuddin, S.Sos., M.Si., seorang akademisi yang konsisten menyuarakan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan akhlak dalam kehidupan mahasiswa.
Dalam sebuah kesempatan, beliau menyampaikan pesan penuh makna yang menggugah kesadaran civitas akademika. “Di kampus, kita belajar bahwa ilmu tanpa akhlak akan melahirkan keangkuhan, dan akhlak tanpa ilmu akan menimbulkan kelemahan,” tuturnya dengan tegas.
Menurut Dr. Sapri, ilmu pengetahuan adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Namun, tanpa diimbangi oleh akhlak, ilmu bisa menjadi pedang bermata dua yang melahirkan sifat angkuh, merasa paling benar, bahkan menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu akan melahirkan kelemahan, karena kebaikan hati tanpa wawasan luas tidak mampu memberi solusi nyata bagi tantangan zaman.
“Generasi muda perlu menyadari bahwa kemajuan teknologi, globalisasi, dan persaingan dunia kerja hanya bisa dihadapi oleh mereka yang memiliki kombinasi antara kecerdasan intelektual dan kekuatan moral,” tambahnya.
Kehadiran pesan moral tersebut mendapat sambutan hangat dari mahasiswa dan para pendidik. Banyak yang menilai bahwa pernyataan itu relevan dengan kondisi saat ini, di mana tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Mahasiswa dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan modern, namun tetap harus berakar pada nilai budaya, etika, dan moral yang kuat.
Sejumlah mahasiswa mengaku terinspirasi dengan kalimat bijak yang disampaikan Dr. Sapri. Menurut mereka, pesan tersebut memberikan pandangan baru tentang pentingnya membangun karakter bersamaan dengan menuntut ilmu. “Kami jadi sadar, bahwa kuliah bukan hanya mengejar nilai dan gelar, tetapi juga bagaimana membentuk kepribadian yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkap salah seorang mahasiswa.
Sebagai seorang akademisi, Dr. Sapri Tajuddin juga Dosen UMS Rappang, menegaskan bahwa kampus tidak boleh terjebak pada rutinitas transfer ilmu semata. Lebih jauh dari itu, kampus harus menjadi ruang pembinaan mental, spiritual, dan moral bagi mahasiswa. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh tidak hanya berhenti pada tataran teoritis, tetapi dapat diterapkan dengan penuh tanggung jawab dan memberi manfaat luas di masyarakat.
Ia pun berharap agar seluruh tenaga pendidik dan mahasiswa menjadikan nilai ilmu dan akhlak sebagai prinsip hidup. “Jika ilmu dan akhlak berjalan seiring, maka akan lahir generasi emas yang bukan hanya cerdas, tetapi juga rendah hati, berintegritas, dan siap mengabdi untuk bangsa,” pungkasnya.
Pesan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus menyeimbangkan proses pencarian ilmu dengan pembentukan karakter. Dengan begitu, kampus benar-benar dapat menjadi tempat lahirnya generasi unggul, tangguh, dan berakhlak mulia. (Mlp)



















