BERITAPERS – Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Rusdi Hartono menggelar dialog terbuka bertajuk Coffee Morning: Potret Diri – Refleksi dan Pandangan Berbagai Elemen Masyarakat terhadap Polda Sulsel, Senin (5/5/2025). Acara berlangsung di Lobby Lontang Adduppangeng Mapolda Sulsel, menghadirkan akademisi hingga pejabat utama kepolisian.
Guru Besar Hukum Pidana Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Amir Ilyas, menjadi narasumber utama dalam forum santai namun penuh muatan reflektif ini. Ia memaparkan kritik dan catatan tajam terhadap kinerja kepolisian dalam menangani berbagai persoalan hukum.
Salah satu isu utama yang diangkat adalah ketidakjelasan penyelesaian laporan masyarakat yang kerap berujung pada pengajuan praperadilan. Menurut Prof. Amir, penegakan hukum perlu transparan dan berani menghentikan perkara yang tidak memenuhi unsur formil dan materiil.
Ia juga menyinggung lemahnya penanganan kasus viral seperti peristiwa Luwu Timur yang memunculkan tagar #PercumaLaporPolisi. “Respons awal yang lemah memperbesar ketidakpercayaan publik. Informasi jadi liar dan memicu krisis kepercayaan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Prof. Amir mengingatkan pentingnya menjaga netralitas Polri dari politik praktis, serta menegakkan prinsip non-diskriminatif dalam setiap penanganan perkara hukum. Ia menyoroti fenomena “saling lapor” yang membingungkan masyarakat dan aparat sendiri.
Dialog yang berlangsung selama sekitar satu jam ini juga dihadiri oleh Wakapolda Sulsel Brigjen Pol. Nasri, Irwasda Polda Kombes Pol. Ai Afriandi, serta para pejabat utama lainnya. Suasana diskusi berjalan terbuka, penuh masukan kritis dan solusi konstruktif.
Kapolda Sulsel merespons positif masukan yang disampaikan. Ia menyebut kritik sebagai bentuk kepedulian terhadap institusi. “Kita perlu ruang untuk bercermin, menyusun konsep, dan merespons dinamika hukum di masyarakat,” kata Irjen Rusdi.
Ia menyambut gagasan pembentukan Pusat Kajian Kepolisian di Universitas Hasanuddin sebagai bentuk sinergi strategis antara akademisi dan aparat penegak hukum. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam merumuskan kebijakan kepolisian yang lebih adaptif dan humanis.
Kapolda menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap masukan dan kritik publik. Ia menekankan pentingnya dialog sebagai media refleksi dan pembelajaran bersama. “Kita ingin institusi ini terus berkembang dan dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Irjen Rusdi berencana menjadikan forum serupa sebagai agenda rutin setiap dua pekan. Menurutnya, dialog singkat namun substansial dapat menjadi sarana efektif untuk pembenahan internal.
“Cukup 60 menit, tapi harus padat dan menyasar persoalan inti. Yang terpenting adalah komitmen untuk terus memperbaiki diri,” pungkasnya.
Forum ini menjadi momentum bagi Polda Sulsel untuk membangun komunikasi dua arah yang sehat dengan publik, sembari terus melakukan pembenahan dari dalam demi menjaga kepercayaan dan integritas institusi kepolisian.










