Salah satu tantangan terbesar dalam produksi film ini adalah mempertahankan keaslian bahasa dan logat lokal Makassar agar tidak kehilangan konteks budaya. “Kami berkomitmen menjaga otentisitasnya. Ini bukan hanya soal akting, tapi juga tentang membawa kembali ruh dari kejadian sebenarnya,” tambah Sony.
Film ini juga menjadi panggung pembuktian bagi para aktor dan kru lokal. Cahya Adi Negara tampil mengesankan sebagai Rusli (Uli), tokoh utama sekaligus pelaku pembunuhan yang kompleks dan emosional.
“Saya memerankan seorang pembunuh yang kejam, tapi dia bukan sepenuhnya jahat. Ia adalah korban dari janji kekuatan mistis yang menyesatkan,” kata Cahya singkat usai pemutaran perdana.
Sony pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim yang terlibat, khususnya para talenta lokal Makassar yang menunjukkan totalitas luar biasa.
“Kami dari Binasol Pictures sangat berterima kasih. Kualitas aktor dan kru lokal benar-benar luar biasa dan pantas diapresiasi,” ujarnya.
Dukungan terhadap film ini juga datang dari Pemerintah Kota Makassar. Ahmad Namsum, Staf Ahli Asisten I Pemkot Makassar, menyambut baik produksi film yang mengangkat kisah nyata dari daerah sendiri.
“Pemkot tentu mendukung film seperti ini. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga menjadi bentuk pengingat sejarah lokal yang dikemas dengan nilai edukatif dan hiburan,” ucap Ahmad.
Ia turut mengajak masyarakat Makassar untuk menyaksikan Karunrung 1995 sebagai wujud apresiasi terhadap karya lokal dan sejarah yang pernah terjadi di tengah masyarakat.










