Rivky pun berhenti sejenak menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ternyata, si ibu seorang maniak pertandingan sepakbola dan Rivky Mokodompit adalah salah satu bintang favoritnya. Melihat kondisi demikian, kepala tim dinas pemadam kebakaran spontan menemukan ide. Mungkin selama beberapa waktu tadi si ibu tidak percaya dengan kompetensi tim pemadam kebakaran untuk menyelamatkan mereka berdua. Siapa tahu, si ibu lebih percaya kepada Rivky Mokodompit. Oleh karena itu, ia meminta kepada si ibu agar melemparkan bayinya kepada Rivky, nanti baru menyelamatkan si ibu. Mendengar tawaran itu, sang ibu sangat setuju. Logikanya, Rivky Mokodompit adalah kiper kelas wahid. Bola yang bulat saja bisa ditangkap apalagi bayi.
Setelah menjelaskan apa yang terjadi, Rivky Mokodompit pun setuju untuk menolong ibu tersebut. Lalu ia memakai sarung tangannya dan bersiap-siap untuk menangkap sang bayi. Masyarakat yang menyaksikan peristiwa ini pun terdiam dan berdebar-debar, kalau-kalau tidak dapat ditangkap. Setelah diberi aba-aba oleh petugas, si ibu pun dengan kepercayaan diri yang tinggi melemparkan bayinya kepada Rivky.
Begitu bayi di lempar, Rivky langsung menangkapnya dengan gaya persis seperti ketika ia menangkap bola. Alhasil, bayi itu berhasil diselamatkan. Begitu bayi berhasil ditangkap, sorak-sorai dan tepuk tangan seluruh masyarakat yang menonton bergemuruh. Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat, seketika itu juga Rivky Mokodompit berlari dengan bayi yang ada di tangannya. Lalu… melempar kembali bayi tersebut kepada ibunya yang masih terjebak kebakaran!
Para ahli jiwa mengatakan bahwa 90% tingkah laku kita sehari-hari diwarnai dan dipengaruhi oleh kebiasaan kita sendiri. Pada mulanya, kebiasaan kita membentuk seperti benang yang tidak terlihat. Tetapi dengan pengulangan, benang tadi melilit menjadi tali dan kemudian menjadi tambang. Setiap kali kita mengulangi sebuah tindakan, kita menambahkan dan menguatkan tindakan tersebut.
John Dryden pernah bertutur, “Pertama kita yang membentuk kebiasaan, selanjutnya kebiasaanlah yang akan membentuk kita.” Sebagai contoh, kebiasaan membaca. Mula-mula kita yang membentuk kebiasaan itu, lama-kelamaan kebiasaan itu malah mengendalikan hidup kita (bagi sebagian orang tentunya). Demikian pula halnya untuk melakukan kebiasaan yang baik. Mula-mula sulit dan cenderung menolak, namun lama-kelamaan kita menikmatinya bahkan menjadi trade mark.






















Discussion about this post