Contoh sederhana, ketika ilmu disulap menjadi hiburan, absurditas mencapai layar kaca. Salah satu TV nasional bahkan meluncurkan acara “AI menjawab cinta” dan acara tersebut ditonton lebih dari satu juta orang. AI bukan lagi kecerdasan buatan, tapi kecerdasan yang dipertontonkan, bukan untuk mengangkat nurani publik tapi untuk menyusun punch line dalam pidato kosong pemimpin yang ogah membaca. Shikoublade menyebutnya kecerdasan yang dipolitisasi, ketika substansi kalah oleh tepuk tangan meriah, dan absurditas ini belum selesai, dalam diam-diam spiritual pun diketikkan. 30% pengguna Indonesia pernah bertanya soal ibadah ke AI, seperti halal kah ini?, doa apa untuk rezki instatnt?. Seolah-olah AI dijadikan tokoh agama virtual tanpa sanad tanpa spiritualitas. Shikoublade menyebutnya sebagai Tafsir Otomatisasi. Ketika iman bukan hasil kontemplasi tapi auto generate, sementara itu nafsu semakin canggih.
Indonesia masuk kategori lima besar dunia dalam memanipulasi AI untuk konten seksual eksplisit, ketika ditolak netizen seolah AI itu adalah pelayan hasrat. Shikoublade menyebutnya sebagai simulasi nafsu digitalisasi insting primitif, bukan AI yang bermasalah tapi manusia yang kehilangan malu. Semua ini berpuncak pada satu pola bahwa kita tidak lagi bertanya untuk memahami tapi untuk mendikte ketika jawaban tidak sesuai dengan ego, maka reaksinya “bangke, chat GPT Goblok!”, manusia mengingkan jawaban “harusnya dukung saya …”. Shikoublade menyebutnya sebagai mental konfirmasi bisu, sebuah kondisi dimana pertanyaan bukan untuk membuka wacana tetapi untuk mencari pembenaran dari bias personal dan dampaknya sangat nyata dimana otak hanya penenang bukan lagi penggerak dan kita melihat generasi yang bingung peran, seperti AI jadi guru, jadi psikolog bahkan jadi dewa kecil, kemudian pendidikan tanpa literasi, dimana nilai naik tapi logika jatuh dan masuk ke politik tanpa nurani.
Janji disusun oleh prompt tapi bukan prinsip dan menjalar ke median yang jadi kolam bot, opini publik bercampur dengan ludah digital dan diam-diam masuk ke ruang agama tanpa jiwa, dimana iman diketik bukan diyakini. Mereka mengabaikan proses dibalik kata riset yang diramu, dialog yang dilalui, peperangan logika yang ditafsirkan, semua disamaratakan karena malas membedakan. Tapi Shikoublade tidak buru-buru menjawab keseluruhan, bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu mampu untuk sekedar bereaksi, Shikoublade tahu bahwa balasan terbaik bukan pada balasan statement orang lain tapi pada kedalaman yang terus tumbuh, dan kadang diam bukan bentuk kekalahan tapi jebakan logis bagi mereka yang gemar menertawakan sebelum memahami, karena dalam dunia yang terobsesi menjawab yang paling mencengangkan justru pertanyaan yang ditahan bukan sekedar bertanya, Shikoublade tidak sedang menggurui, antik kritik, baprean, sok filsafat atau menghakimi teknologi, tapi ia sedang membedah kegagapan berfikir dalam dunia yang makin canggih tapi kian bising.
Jadi gunakanlah AI sebagai alat bantu, bukan pelarian emosi. Berfikirlah sebelum mengetik, filter sebelum share dan bedakan yang cerdas dari yang hanya cepat dan bukan sekedar literasi digital yang sekedar diajarkan dalam seminar lalu dilupakan di parkiran. Tapi kurikulum keberadaban yang mengajarkan bahwa berfikir bukan sekedar soal benar atau salah, tapi soal berani merendah di hadapan kompleksitas, bukan hanya memahami teknologi tapi menundukkan ego intelektual yang sering merasa paling update tapi sebenarnya ketinggalan dalam refleksi, karena tidak semua pertanyaan bisa dijawab dalam 300 kata dengan waktu 3 detik.
Ada hal-hal yang butuh diam diskusi dan deetak jantung manusia bukan hanya click dan notifikasi, bangunlah diskusi di meja makan, bukan sekedar membangun citra di layar android, cari guru yang membimbing, bukan followers yang mengiyakan, baca lambat-lambat, serap maknanya dalam-dalam, sebab di dunia yang makin cepat berfikir pelan adalah revolusi sunyi yang menolak punah, Shikoublade tidak hadir dalam tarian viral, karena ini bukan sekedar trend, tapi pedang yang menolak tunduk pada algoritma dan pisau yang menguliti kebiasaan malas berfikir dengan logika yang tidak bisa difilter menggunakan efek lucu, yang tertinggal bukan share dan views tapi keresahan yang menusuk diam-diam seperti suara hati yang menolak dikompresi.






















Discussion about this post