Beritapers.com.Makassar-Sebanyak 42 guru dan penyedia layanan dari lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan hari ini memulai sesi utama Training of Trainer (ToT) untuk Peningkatan Kapasitas dalam Mendukung Kesehatan Mental Anak dan Remaja. Pelatihan intensif yang diselenggarakan di Hotel Remcy Makassar, ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Yayasan BAKTI, UNICEF Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Juli 2025.
Peserta ToT berasal dari berbagai daerah, meliputi Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Wajo. Mereka terdiri dari perwakilan sekolah, UPTD PPA, dan berbagai shelter warga. Rabu (2/7/2025).
Kegiatan ToT ini digelar menyikapi kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Sulawesi Selatan yang memprihatinkan. Data dari Laporan State of the World’s Children tahun 2022 oleh UNICEF menunjukkan bahwa 13% anak dan remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dan di Indonesia, Survei Nasional Kesehatan Mental Remaja (I-NAMHS) 2022 melaporkan 34,9% remaja mengalami masalah psikologis seperti kecemasan (26,7%), depresi (5,3%), dan stres pascatrauma (1,8%). Ironisnya, masih banyak dari mereka yang belum memiliki akses layanan yang memadai.
Di tengah dunia yang terus berubah, anak dan remaja menghadapi berbagai dinamika keluarga, tuntutan akademik, perubahan sosial, serta paparan digital yang dapat memicu persoalan kesehatan mental,” jelas salah satu perwakilan penyelenggara. Kondisi ini diperparah dengan pandangan masyarakat yang kerap menganggap isu kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu atau disebabkan oleh lingkungan keluarga maupun institusi pendidikan. Padahal, kesehatan mental merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang seseorang secara utuh.
ToT ini dirancang dengan dua tujuan utama memperdalam pengetahuan guru dan penyedia layanan tentang isu kesehatan mental pada anak dan remaja, termasuk faktor risiko, tanda-tanda gangguan psikologis, serta pentingnya pendekatan promotif dan preventif yang berbasis bukti dan memberikan bekal keterampilan yang esensial, seperti teknik fasilitasi, komunikasi empatik, regulasi emosi, manajemen stres, dan peningkatan harga diri remaja, yang termuat dalam modul Helping Adolescents Thrive (HAT) yang dikembangkan oleh WHO dan UNICEF.
Sebagai luaran utama kegiatan, diharapkan 42 peserta yang terdiri dari 19 guru dan 23 penyedia layanan ini dapat menjadi fasilitator lokal yang kompeten. Mereka akan mampu mereplikasi materi pelatihan Helping Adolescents Thrive melalui sesi edukasi di sekolah, komunitas, atau layanan dasar, dengan pendekatan yang partisipatif, kontekstual, dan inklusif. Selain itu, setiap peserta juga diharapkan menyusun rencana tindak lanjut (RTL) yang dapat didokumentasikan sebagai referensi untuk pengembangan program serupa di masa mendatang.
Kegiatan ToT ini merupakan wujud komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang ramah mental, inklusif, dan berkelanjutan, demi memastikan tumbuh kembang remaja di Sulawesi Selatan yang sehat dan tangguh.
Menurut Andi Nurlela selaku
Konsultan Program Child Protection UNICEF-BaKTI mengatakan bahwa isu kesehatan mental anak dan remaja kini telah menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Perkembangan zaman yang sangat cepat, kemajuan teknologi digital, serta kompleksitas tekanan sosial dan akademik membuat anak dan remaja semakin rentan mengalami gangguan psikologis. Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika kehidupan sehari-hari, banyak dari mereka belum memiliki sistem dukungan emosional yang memadai di lingkungannya.
Kondisi ini menjadi dasar mengapa peningkatan kapasitas guru dan penyedia layanan menjadi sangat krusial. Mereka adalah pihak yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan anak dan remaja, sehingga memiliki peran strategis dalam mengenali gejala awal masalah kesehatan mental dan memberikan dukungan yang tepat. Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun sebuah ekosistem yang mendorong empati, dukungan emosional, dan kepedulian kolektif di lingkungan terdekat anak-anak, ujarnya.
Lebih jauh lagi, Andi Nurlela berharap
Dengan pendekatan yang partisipatif dan berbasis bukti, peserta pelatihan diharapkan mampu mereplikasi pengetahuan dan keterampilan yang didapat secara kontekstual dan inklusif di sekolah, komunitas, maupun layanan dasar. Modul Helping Adolescents Thrive (HAT) yang digunakan dalam pelatihan ini memberikan kerangka praktis untuk membangun ketahanan mental anak dan remaja, melalui penguatan komunikasi empatik, manajemen stres, regulasi emosi, serta peningkatan harga diri.
Kami percaya bahwa investasi pada kapasitas para pendidik dan penyedia layanan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak Indonesia. Dengan pengetahuan dan kepekaan yang meningkat, mereka tidak hanya mampu mencegah dan menangani masalah, tetapi juga membangun ruang aman yang mendukung pertumbuhan emosional dan sosial anak.
Semoga ke depan, guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang menakutkan bagi anak-anak, melainkan menjadi figur yang paling dekat, aman, dan mampu memberikan penguatan emosional serta mendukung kesehatan mental mereka. Harapan kami, pelatihan ini menjadi titik awal dari perubahan budaya dalam dunia pendidikan dan layanan sosial yng lebih peduli, lebih inklusif, dan lebih berpihak pada kesejahteraan mental anak dan remaja, jelasnya.
Laporan Rafi.






















Discussion about this post