Oleh Penulis: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., MA
Bahasa dan Sastra Arab-
Humaniora UIN Maliki Malang
BERITAPERS – Ramadhan telah separuh kita jalani, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Sebagai seorang yang berkhidmah pada Bahasa dan Sastra Arab, saya ingin sharing pemikiran tentang pentingnya kesadaran linguistik dalam membaca Al-Qur’an, terutama dalam bulan Ramadhan ini.
Dalam Al-Qur’an, kita dapat menemukan berbagai macam gaya bahasa, dari bahasa yang indah dan puitis hingga bahasa yang tegas dan keras.
Namun, apakah kita telah memperhatikan makna yang terkandung di balik kata-kata tersebut? Apakah kita telah memahami konteks historis dan budaya yang melatarbelakangi penulisan Al-Qur’an?
Misalnya, dalam Surat Al-Baqarah ayat 2-3, disebutkan:
الٓمٓ ۚ ذَٲلِكَ ٱلْكِتَٲبُ لَا رَيْبَ ۛفِيهِ هُدًى لِلْمُتَقِينَ
“Alif Lam Mim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2-3).
Dalam ayat ini, kita dapat melihat bagaimana Al-Qur’an menggunakan bahasa yang indah dan puitis untuk menjelaskan tentang kitab yang tidak ada keraguan padanya.










